Inilah Aku...
Bagaimana kau akan memperumpamakanKU ?
Sedang Aku bukan segala yang dapat kau jelaskan
Aku tidak datang kepadamu, karena Aku tidak jauh
Aku pun tiada pergi darimu, karena Aku tidak berjarak
Jika Aku begitu dekat maka dekatKU tak menyesakkanmu
Jika Aku begitu lekat maka lekatKU tak menyempitkanmu
Aku bukan penunggu dari masa yang lalu
Aku bukan pendatang dari masa yang baru
Aku tak didahului
Aku tak diakhiri
Aku berada dimanapun
Aku tak terdinding ruang
Aku berada kapanpun
Aku tak dihalangi waktu
Aku bergerak sesukaKU
Dan bergerak adalah SifatKU
Aku berkehendak semauku
Dan berkehendak adalah KhasKU
Aku meliputimu
Aku menyertaimu
Aku menunggumu
Dalam pintu nuranimu
Lihat CahayaKU
Kau akan mendapatkan isyaratKU
Datanglah padaKU
Disitu kebahagiaanmu
Inilah Aku...
Berkehendak agar kau pulang kepadaKU
This foto belong to AFSP Central Florida
This foto belong to AFSP Central Florida
Link : http://www.afsp.org/index.cfm?fuseaction=home.viewPage&page_id=E6AC84E2-E148-9163-22843A53FF6B8387
Link : http://www.afsp.org/index.cfm?fuseaction=home.viewPage&page_id=E6AC84E2-E148-9163-22843A53FF6B8387
Sabtu, 26 Juni 2010
Rabu, 23 Juni 2010
Aku Tak Tahu....
Tercekat aku di sudut kebisuanku
Menyaksikan bencana dan durjana semakin mengakar mengurat nadi
Meraja lela di pelosoknya
Mewabah di setiap lorong-lorong
Menghantui rumah-rumah si lemah
Telah tak memandang siapa
Kawan, sahabat ataupun saudara
Orang tua ataupun anak mendapatkan aniaya
Lebih mulia binatang melata
Dibiarkan hidup sedang nyawa manusia tlah tak berharga
Mengapa DIA membiarkan ini semua terjadi ?
Rumah-rumah yang digusur tanpa ampun, ketimpangan sosial yang memuakkan, bencana dan wabah penyakit yang bertubi-tubi, kerusakan moral dari kalangan kanak-kanak hingga lansia, pelacuran terselubung maupun terbuka, penyimpangan seksual, pemerkosaan, pembunuhan...???
Dimana DIA saat bayi-bayi tak bersalah itu dibunuh ibunya?
Dimana DIA saat anak-anak tak bersalah itu diperkosa,disodomi, dibunuh pula?
Dimana DIA saat anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja menjadi arang, terbakar hidup-hidup dirumahnya yang terbakar?
Dimana DIA saat para istri tercabik-cabik hatinya luar biasa disaat suaminya memadu kasih dengan wanita lain?
Dimana DIA saat para perampok menyatroni rumah dan membunuh penghuninya tanpa rasa berdosa? Dimana DIA saat para penjajah itu merangsek masuk ke negeri orang membantai membunuhi warganya?
Dimana DIA saat si sakit meraung-raung tak bersuara menahankan penderitaan di tubuh lemahnya ?
Dimana DIA ????
Dimana Allahku.....???
Menangis........
Menangis aku dalam hatiku....
Senyaap.......Heniing
Sesuatu mengetuk-ngetuk pintu kalbuku...
Melingkari relungku dengan bias cahaya
Deg deg deg
Huw Huw Huw
Kurasakan DIA amat dekat padaku
Tak dapat kutebak jarakNYA
Namun NafasNYA menyelubungiku
Membuatku tenggelam di dalam RahasiaNYA
Aku tersilau dalam MisykatNYA
Cahaya di atas Cahaya
Seketika membahana didalam akal dan merasuk kedalam nuraniku
Tak usah kau pertanyakan kebijakanKU
Biarlah AKU tetap menggenggam RahasiaKU
IlmuKU meliputi segalanya diseluruh CiptaanKU
Dan tiada yang kau ketahui melainkan amat sedikit
Yakinilah !!
Kasih sayangKU melampaui murkaKU
Maka Bersyukurlah kepadaKU
Dan tetaplah mengingatKU
Tiba-tiba aku menyadari kefaqiranku
Bahwa benar tiada yang kuketahui kecuali sedikit dari apa yang diberikan Tuhanku
Kehadiranku sajapun di dunia ini dahulu tak kumengerti sebagai bayi merah tak berdaya
Aku tak pernah memilih kehidupanku
Bahkan aku tak memilih ragaku sendiri
Aku tak memilih ayah dan ibuku darimana aku lahir
Aku tak mengetahui setiap sel dalam tubuhku bergerak di jagad ragaku
Aku tak mengetahui setiap detak jantungku mengetuk tanda kehidupanku
Aku tak mengetahui setiap hela nafasku menyambung setiap detik usiaku
Aku tak tahu....
Sungguh aku tak tahu
Hanya DIA yang Maha Tahu
Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun
Sesungguhnya kita semua milikNYA, dan kita semua akan kembali kepadaNYA
Cukuplah Allah saja bagiku
Minggu, 20 Juni 2010
Prasangka Buruk
setiap berkunjung ke blog itu, selalu terkesima. Terkesima dengan kreativitas dan inovasi-inovasinya. (tolong terjemahkan apa perbedaan kreatif dan inovatif, jangan-jangan artinya sama nih ^;^). sesuatu yang tak terfikirkan, dimunculkan lagi oleh blog ini, yaitu menciptakan Peribahasa baru. selama ini yang kita tahu dan disuruh dihafal disekolah adalah peribahasa-peribahasa lama. Jadi lomba membuat peribahasa ini ide yang sangat brilian menurutku.
Dalam rangka menyambut atau mangayo bagyo RiRi ( Hari Berdiri ) BlogCamp yang pertama tahun 2010 ini, saya menggelar sebuah acara lagi bertajuk “Kontes Menulis Peribahasa”
Demikian sebagian isi ajakan penyelenggara kontes ini, semoga apa yang akan kubuat dengan peribahasaku ini, memiliki makna yang baik, setidaknya untuk diriku sendiri. Ini peribahasaku yang akan kuikutkan kontes :
Peribahasa :
Jangan berteman dengan prasangka burukmu, ia akan membunuhmu
Arti dan Maksud :
Jika benak dan hati kita selalu dipenuhi dengan prasangka buruk kepada orang lain, apalagi orang-orang terdekat kita, maka selamanya kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Hari-hari kita akan selalu dipenuhi curiga dan syak wasangka yang akan mempengaruhi hubungan baik kita dengan orang lain bahkan memperburuk kesehatan jiwa dan raga kita, dan yang paling parah adalah jika kita mengikuti prasangka buruk itu dengan tindakan tercela, maka ia akan menjerumuskan dan jadilah kita orang yang celaka. Na'udzu billah.
Semoga kita tidak termasuk orang yang mudah berprasangka buruk, jadilah orang yang lapang dada, hati kita hanya penuh dengan dzikir dan keikhlasan.
Jumat, 18 Juni 2010
Allah Knows
When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows
When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows
No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows
When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows
When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows
When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows
You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows
BRIDGE:
Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows
Artist : Zain Bikha
Kamis, 17 Juni 2010
God Spot ; Menjadi hamba yang berkibar dengan Tuhannya
Bismillah
Berdesir hati saya saat membaca sebuah artikel yang bagi saya sangat "mencerahkan" akal budi dan kesadaran bathin. Artikel itu bertema 'God Spot' *Titik Tuhan* dimana selama ini orang memahami hal itu pusatnya berada di otak. Mungkin tidak sepenuhnya salah, namun penjelasan-penjelasan yang selama ini ada kurang detail.
Artikel itu mengangkat dua ayat dalam Al-Qur'an yaitu :
QS.Al-Anfal : 2
QS.Az-Zumar : 23
Apa hubungannya kedua ayat diatas dengan God Spot yang dimaksud ?
Melihat ayat tersebut diatas dimana disebutkan gemetar kulit orang beriman jika disebutkan Nama Allah, dan ayat kedua menyebutkan menjadi tenanglah kulit dan hati orang yang mengingat sang Pemilik Nama Allah. Mengapa disebut dalam al-Qur'an kata 'Kulit'?
Dimulai dari otak yang menerima "sentuhan" dari panca inderanya lalu bereaksi yang menyampaikan pesan yang diterimanya keseluruh tubuh.hingga ke kulit ari sekalipun akan menerima akibat dari penerimaan otak tersebut.
Jika kita mampu mengiqra' hingga ke unsur yang paling halus berupa DNA manusia, maka kita akan melihat DNA itu selalu bergerak selalu bergetar yang jika didengarkan dengan alat yang sangat sensitif, maka kita akan mendengar getarannya berbunyi dan bunyinya seperti suara dzikir. Apabila kita berdzikir, suaranya akan monoton demikian pula dengan DNA. Hal ini membuktikan bahkan hingga unsur terkecil sekalipun, jagad ciptaan Allah ini selalu bergetar, bergerak, berdzikir. Belum lagi jika menyimak organ-organ manusia yang ukurannya jauh lebih besar dari DNA seperti jantung, ginjal, hati, paru-paru bahkan dagingpun selalu bergerak di jagad jasmaninya manusia yang masih hidup.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang sangat sempurna . Apabila sel otak manusia aktif akan menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah, bayangkan Malaikat saja sampai "minder" saat Nabi Adam as diberi ilmu pengetahuan oleh Allah (QS.Al-Baqarah 30-33) dan apabila kasasitas sel otak manusia aktif seluruhnya bakal terkuak seluruh rahasia alam ini. bahkan Al-Qur'an pun akan terkuak rahasianya. Disinilah kelemahan manusia selama ini yakni tidak memfungsikan akalnya sebagai baitul makmur yaitu bait/rumah tempat memakmurkan Dzat,Sifat dan Af'alNYA yang Al-Ghaib tetapi mutlak keberadaanNYA, yang Allah asmaNYA.
Saya termenung, sedangkan diri ini masih lebih "digetarkan" oleh hal-hal selain DiriNYA, pantaslah jika masih merasa lelah dengan kesibukan-kesibukan duniawi. Walaupun akan dianggap wajar kelelahan itu karena memang diri ini masih berjiwa raga, namun itu semua disadari karena jiwa raga yang lelah ini memang seringkali kosong dari dzikir, hampa dari tafakur, jauh dari berkhalwat hanya dengan diriNYA.
Mengingat-ingatNYA, senantiasa mendzikiriNYA akan membuat setiap sel dari trilyunan sel yang ada dalam tubuh manusia bergerak, berputar, dinamis menajadi motor bagi sang insan untuk selalu bekerja berusaha hanya demi mensucikanNYA. DimampukanNYA mengelola garapan dunia semata-mata untuk memproses pensucian dirinya. Segala tingkah laku dan perbuatannya serta gerak gerik bathinnya sama sekali tidak diperintah oleh hawa nafsu dan watak 'aku'nya tetapi murni mengikuti kehendak Rabbnya.
Menjadi hamba yang senantiasa berkibar dengan Tuhannya.
Wallahu a'lam
Berdesir hati saya saat membaca sebuah artikel yang bagi saya sangat "mencerahkan" akal budi dan kesadaran bathin. Artikel itu bertema 'God Spot' *Titik Tuhan* dimana selama ini orang memahami hal itu pusatnya berada di otak. Mungkin tidak sepenuhnya salah, namun penjelasan-penjelasan yang selama ini ada kurang detail.
Artikel itu mengangkat dua ayat dalam Al-Qur'an yaitu :
QS.Al-Anfal : 2
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan Allah (nama Tuhan yang Al-Ghaib tetapi mutlak adaNYA) maka gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNYA bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".
QS.Az-Zumar : 23
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutunya) lagi berulang-ulang. gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah".
Apa hubungannya kedua ayat diatas dengan God Spot yang dimaksud ?
Melihat ayat tersebut diatas dimana disebutkan gemetar kulit orang beriman jika disebutkan Nama Allah, dan ayat kedua menyebutkan menjadi tenanglah kulit dan hati orang yang mengingat sang Pemilik Nama Allah. Mengapa disebut dalam al-Qur'an kata 'Kulit'?
Dimulai dari otak yang menerima "sentuhan" dari panca inderanya lalu bereaksi yang menyampaikan pesan yang diterimanya keseluruh tubuh.hingga ke kulit ari sekalipun akan menerima akibat dari penerimaan otak tersebut.
Jika kita mampu mengiqra' hingga ke unsur yang paling halus berupa DNA manusia, maka kita akan melihat DNA itu selalu bergerak selalu bergetar yang jika didengarkan dengan alat yang sangat sensitif, maka kita akan mendengar getarannya berbunyi dan bunyinya seperti suara dzikir. Apabila kita berdzikir, suaranya akan monoton demikian pula dengan DNA. Hal ini membuktikan bahkan hingga unsur terkecil sekalipun, jagad ciptaan Allah ini selalu bergetar, bergerak, berdzikir. Belum lagi jika menyimak organ-organ manusia yang ukurannya jauh lebih besar dari DNA seperti jantung, ginjal, hati, paru-paru bahkan dagingpun selalu bergerak di jagad jasmaninya manusia yang masih hidup.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang sangat sempurna . Apabila sel otak manusia aktif akan menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah, bayangkan Malaikat saja sampai "minder" saat Nabi Adam as diberi ilmu pengetahuan oleh Allah (QS.Al-Baqarah 30-33) dan apabila kasasitas sel otak manusia aktif seluruhnya bakal terkuak seluruh rahasia alam ini. bahkan Al-Qur'an pun akan terkuak rahasianya. Disinilah kelemahan manusia selama ini yakni tidak memfungsikan akalnya sebagai baitul makmur yaitu bait/rumah tempat memakmurkan Dzat,Sifat dan Af'alNYA yang Al-Ghaib tetapi mutlak keberadaanNYA, yang Allah asmaNYA.
Saya termenung, sedangkan diri ini masih lebih "digetarkan" oleh hal-hal selain DiriNYA, pantaslah jika masih merasa lelah dengan kesibukan-kesibukan duniawi. Walaupun akan dianggap wajar kelelahan itu karena memang diri ini masih berjiwa raga, namun itu semua disadari karena jiwa raga yang lelah ini memang seringkali kosong dari dzikir, hampa dari tafakur, jauh dari berkhalwat hanya dengan diriNYA.
Mengingat-ingatNYA, senantiasa mendzikiriNYA akan membuat setiap sel dari trilyunan sel yang ada dalam tubuh manusia bergerak, berputar, dinamis menajadi motor bagi sang insan untuk selalu bekerja berusaha hanya demi mensucikanNYA. DimampukanNYA mengelola garapan dunia semata-mata untuk memproses pensucian dirinya. Segala tingkah laku dan perbuatannya serta gerak gerik bathinnya sama sekali tidak diperintah oleh hawa nafsu dan watak 'aku'nya tetapi murni mengikuti kehendak Rabbnya.
Menjadi hamba yang senantiasa berkibar dengan Tuhannya.
Wallahu a'lam
Rabu, 16 Juni 2010
Yang Baru di Kedamaianku...
Takjub...? Atau aneh ?
Hmmm mungkin berbeda-beda perasaan dan komentar orang melihat template baruku disini sekarang ya (^;^)
Apa maksudnya dengan tampilan baru blogku ini saat ini?
Sebetulnya tidak ada alasan apa-apa selain dari tenang telaganya yang ingin dikesankan. Adapun latar belakang gedung-gedung dan cahaya lampunya hanya hiasan yang kuharap bisa menggantikan kerlip bintang di Telagaku.
Kubayangkan, aku duduk di pinggir telaga ini memandang gedung-gedung mempesona di seberang sana. Sebuah ironi yang ingin kupelajari maknanya. Aku disini dengan segala keterbatasanku dan lingkunganku sedang mereka dengan segala kenyamanan dunia yang melingkupinya. Tak ingin kubuat pemandangan ini menjadi sebuah sesalan. Bahkan kunikmati sebagai kesyukuran karena aku telah dijauhkan dari "tirai" yang dapat semakin menyamarkan "pandanganku kepadaNYA".
Ya....tak ingin kubedakan, apakah gunung-gunung bisu atau gedung-gedung berkilauan. Semua setara hanya ciptaan Tuhan. Meski tetaplah manusia fana amat mencintai keindahan. Namun tak seharusnya kesempitan, kegelapan, kemiskinan, keburukkan menjadi musuh. Mereka bahkan teman yang akan selalu mengingatkan akan keterbatasan kita.
Hanya sekedar template baru, berharap tamu-tamuku merasa nyaman didalamnya dan semakin mensyukuri keberadaanNYA.
Adakah hubungannya ??? SANGAT ,,,tentu saja !
Selamat menikmati jamuan...sudah memasuki bulan Rajab, tak lama lagi mendekati bulan yang dirindukan. Semoga diizinkan, bertemu bulan Ramadhan.
Hmmm mungkin berbeda-beda perasaan dan komentar orang melihat template baruku disini sekarang ya (^;^)
Apa maksudnya dengan tampilan baru blogku ini saat ini?
Sebetulnya tidak ada alasan apa-apa selain dari tenang telaganya yang ingin dikesankan. Adapun latar belakang gedung-gedung dan cahaya lampunya hanya hiasan yang kuharap bisa menggantikan kerlip bintang di Telagaku.
Kubayangkan, aku duduk di pinggir telaga ini memandang gedung-gedung mempesona di seberang sana. Sebuah ironi yang ingin kupelajari maknanya. Aku disini dengan segala keterbatasanku dan lingkunganku sedang mereka dengan segala kenyamanan dunia yang melingkupinya. Tak ingin kubuat pemandangan ini menjadi sebuah sesalan. Bahkan kunikmati sebagai kesyukuran karena aku telah dijauhkan dari "tirai" yang dapat semakin menyamarkan "pandanganku kepadaNYA".
Ya....tak ingin kubedakan, apakah gunung-gunung bisu atau gedung-gedung berkilauan. Semua setara hanya ciptaan Tuhan. Meski tetaplah manusia fana amat mencintai keindahan. Namun tak seharusnya kesempitan, kegelapan, kemiskinan, keburukkan menjadi musuh. Mereka bahkan teman yang akan selalu mengingatkan akan keterbatasan kita.
Hanya sekedar template baru, berharap tamu-tamuku merasa nyaman didalamnya dan semakin mensyukuri keberadaanNYA.
Adakah hubungannya ??? SANGAT ,,,tentu saja !
Selamat menikmati jamuan...sudah memasuki bulan Rajab, tak lama lagi mendekati bulan yang dirindukan. Semoga diizinkan, bertemu bulan Ramadhan.
Minggu, 13 Juni 2010
Menang atau Profesional ?
Bismillah
Segala puji hanya milik Allah yang memberiku rasa senaaang hari ini (mudah-mudahan nggak terlalu ya). Walaupun agak terlambat tapi syukurlah akhirnya bisa tahu informasinya. Tulisanku yang diikutkan pada Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan mbak Anazkia dan disponsori oleh Denaihati beruntung mendapat peringkat ke-3 dari 89 peserta yang mengikuti kontes ini. Judul kisah yang aku ikutkan di kontes itu adalah Gerobak Untuk Anakku
Ini lomba pertamaku yang mendapat penghargaan dari ajang festival atau kontes tulisan, jadi buatku sangat berarti. Tapi, bagaimanapun, aku tetap meyakini bahwa mungkin juga ini hanya so'al keberuntungan saja, soal rezeky. Allah yang menggerakkan para juri itu menentukan pilihannya, so aku berusaha untuk tidak terlalu senang jika mendapat kemenangan begitu juga berusaha untuk tidak terlalu kecewa jika mendapatkan kekalahan.
Tidak hanya satu kontes yang aku ikut terlibat di dalamnya, kuikuti beberapa lomba lainnya seperti yang terakhir lomba Puisi Kocak-nya mbak Fany yang ditemani mbak Fanda dalam penjuriannya atau lomba Pre-Review-nya mbak Clara tapi dalam lomba-lomba itu aku belum beruntung. Dalam keyakinanku, Allah juga yang menggerakan para juri itu untuk tidak memilihku menjadi pemenangnya dan juga peserta-peserta lain yang ber"nasib" sama denganku.
Intinya adalah mengikuti lomba-lomba semacam itu sangat positif dan besar manfaatnya untuk membuat kita lebih terpacu untuk berkarya dan berkarya. Menjadikan tulisan sebagai media untuk kita bisa saling menginspirasi, saling memotivasi, saling mendukung satu sama lain, sebagai wujud persahabatan dan persaudaraan khususnya antar para nara-blogger.
Tidak masalah untuk menjadi pemenang ataupun tidak, walaupun motivasi awalnya tentu saja para peserta lomba sangat mengharapkan kemenangan. Namun kembali ke awal, semua hanya masalah rezeky dan masalah waktu yang bisa jadi jalannya adalah masalah selera juri hehehe. Betul kan?
Masalah selera ini memang sulit diganggu gugat, karena hal ini masalah rasa yang setiap orang berbeda-beda ambang penerimaannya. Misalnya waktu ada pengumuman lomba pemenang puisi kocak, yang menurut jurinya diantara semua peserta yang menyertakan puisi kocaknya nyasulit sekali menemukan puisi yang bisa membuat mereka sekedar mesem apalagi sampai tertawa berguling-guling (hehe ini kutipan dari kata-katanya mbak Fanny lho), padahal dalam penilaianku, saat aku berjalan-jalan membaca puisi-puisi kocak peserta lomba itu banyak yang bikin aku ketawa-ketawa sendiri kecuali puisi kocakku (lho...?) karena aku memang menyadari dalam kehidupan sehari-hari aja susah bikin orang ketawa dari lawakankku kecuali anak-anakku (itu juga sesudahdiancam dibujuk harus ketawa, kalo tetep cembeluut, nggak akan dikasi donat kesukaan mereka hihihi). Jadi, ternyata apa yang bisa bikin aku kayak orang GeJe karena ketawa-ketawa sendiri (berdua deng sama monitor), ternyata belum tentu bisa membuat para juri itu terangkat bibirnya walaupun cuma yang sebelah kanaaan aja, apalagi sampai terpingkal-pingkal.
Mungkiiin, keberuntunganku kali inipun karena kebetulan aja tulisanku agak-agak sesuai seleranya juri, padahal bisa jadi diantara peserta lain yang baca kisahku itu berfikiran :"Masa' sih yang kayak begini bisa dapet peringkat tiga?" atau "Yaah cuma segini aja, kira'in bagus" hehehehehe.... bukannya su'udzan ya (berprasangka jelek kepada orang lain) ini hanya ber mungkin-mungkin aja karena memang aku mengalaminya juga.
Yang bisa aku ambil hikmahnya adalah ketika kita memiliki satu keterampilan berkarya dan sekaligus cita-cita besarnya akan hal tersebut, maka harus diiringi keprofesionalan dan keikhlasan (tanpa pamrih) sehingga bagaimanapun penghargaan orang atas karya kita, maka tetaplah kita sebagai pemenangnya karena kita sudah berintegritas atas usaha kita sendiri.
So...keep try and be professional...
Semoga apa yang kita usahakan disukai Allah, disukai juga hamba-hambaNYA, aamiin...
PS: Untuk mbak Anazkia dan Denaihati trimakasih banyak atas apresiasi dan hadiahnya, sangat berarti dalam hatiku (^;^)
Segala puji hanya milik Allah yang memberiku rasa senaaang hari ini (mudah-mudahan nggak terlalu ya). Walaupun agak terlambat tapi syukurlah akhirnya bisa tahu informasinya. Tulisanku yang diikutkan pada Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan mbak Anazkia dan disponsori oleh Denaihati beruntung mendapat peringkat ke-3 dari 89 peserta yang mengikuti kontes ini. Judul kisah yang aku ikutkan di kontes itu adalah Gerobak Untuk Anakku
Ini lomba pertamaku yang mendapat penghargaan dari ajang festival atau kontes tulisan, jadi buatku sangat berarti. Tapi, bagaimanapun, aku tetap meyakini bahwa mungkin juga ini hanya so'al keberuntungan saja, soal rezeky. Allah yang menggerakkan para juri itu menentukan pilihannya, so aku berusaha untuk tidak terlalu senang jika mendapat kemenangan begitu juga berusaha untuk tidak terlalu kecewa jika mendapatkan kekalahan.
Tidak hanya satu kontes yang aku ikut terlibat di dalamnya, kuikuti beberapa lomba lainnya seperti yang terakhir lomba Puisi Kocak-nya mbak Fany yang ditemani mbak Fanda dalam penjuriannya atau lomba Pre-Review-nya mbak Clara tapi dalam lomba-lomba itu aku belum beruntung. Dalam keyakinanku, Allah juga yang menggerakan para juri itu untuk tidak memilihku menjadi pemenangnya dan juga peserta-peserta lain yang ber"nasib" sama denganku.
Intinya adalah mengikuti lomba-lomba semacam itu sangat positif dan besar manfaatnya untuk membuat kita lebih terpacu untuk berkarya dan berkarya. Menjadikan tulisan sebagai media untuk kita bisa saling menginspirasi, saling memotivasi, saling mendukung satu sama lain, sebagai wujud persahabatan dan persaudaraan khususnya antar para nara-blogger.
Tidak masalah untuk menjadi pemenang ataupun tidak, walaupun motivasi awalnya tentu saja para peserta lomba sangat mengharapkan kemenangan. Namun kembali ke awal, semua hanya masalah rezeky dan masalah waktu yang bisa jadi jalannya adalah masalah selera juri hehehe. Betul kan?
Masalah selera ini memang sulit diganggu gugat, karena hal ini masalah rasa yang setiap orang berbeda-beda ambang penerimaannya. Misalnya waktu ada pengumuman lomba pemenang puisi kocak, yang menurut jurinya diantara semua peserta yang menyertakan puisi kocaknya nyasulit sekali menemukan puisi yang bisa membuat mereka sekedar mesem apalagi sampai tertawa berguling-guling (hehe ini kutipan dari kata-katanya mbak Fanny lho), padahal dalam penilaianku, saat aku berjalan-jalan membaca puisi-puisi kocak peserta lomba itu banyak yang bikin aku ketawa-ketawa sendiri kecuali puisi kocakku (lho...?) karena aku memang menyadari dalam kehidupan sehari-hari aja susah bikin orang ketawa dari lawakankku kecuali anak-anakku (itu juga sesudah
Mungkiiin, keberuntunganku kali inipun karena kebetulan aja tulisanku agak-agak sesuai seleranya juri, padahal bisa jadi diantara peserta lain yang baca kisahku itu berfikiran :"Masa' sih yang kayak begini bisa dapet peringkat tiga?" atau "Yaah cuma segini aja, kira'in bagus" hehehehehe.... bukannya su'udzan ya (berprasangka jelek kepada orang lain) ini hanya ber mungkin-mungkin aja karena memang aku mengalaminya juga.
Yang bisa aku ambil hikmahnya adalah ketika kita memiliki satu keterampilan berkarya dan sekaligus cita-cita besarnya akan hal tersebut, maka harus diiringi keprofesionalan dan keikhlasan (tanpa pamrih) sehingga bagaimanapun penghargaan orang atas karya kita, maka tetaplah kita sebagai pemenangnya karena kita sudah berintegritas atas usaha kita sendiri.
So...keep try and be professional...
Semoga apa yang kita usahakan disukai Allah, disukai juga hamba-hambaNYA, aamiin...
PS: Untuk mbak Anazkia dan Denaihati trimakasih banyak atas apresiasi dan hadiahnya, sangat berarti dalam hatiku (^;^)
Kamis, 10 Juni 2010
Terimakasihku.......
Bismillahirrahmaanirrahiim
Aku mulai tulisan ini dengan mengucap rasa syukurku kepada Rabb yang telah memberiku mau untuk menulis sesuatu yang kuharap akan menggugah lebih dalam lagi rasa syukurku. Menulis adalah salah satu kecintaan duniawiku, padanya aku menikmati memetik kata-kata merah ranum untuk kususun menjadi secawan kalimat indah.
Jika kecintaanku itu telah melukiskan banyak gambaran kehidupan di sekelilingku, maka alangkah pantasnya jika kugoreskan pula hal yang sama tentang orang yang kusayangi.
Bertahun-tahun yang lalu, adalah harapan besarku untuk dapat memiliki rumah tangga dan keluarga yang baik. Baik dalam pandangan manusia, terlebih lagi baik dihadapan Tuhanku.
Selalu kumintakan disetiap do'a-do'aku, kiranya Allah memberiku pasangan hidup yang baik bagiku
Mencintaiku sebagai diriku apa adanya yang terlalu banyak kekurangan dan keterbatasannya.
Dan akupun meminta kepadaNYA agar aku dapat mencintainya sebagai dirinya apa adanya yang tentulah bukan manusia maksum yang sempurna tanpa cacat dan cela.
Aku memohon kepada Rabb-ku, cintaku bersih kepadanya karena Allah semata.
Ketika saat itu tiba....saat-saat dimana Allah mempertemukan kami dengan caraNYA yang tak terduga.
Tak seperti biasanya pertemuan insan lainnya.
Aku menerimanya dengan tanda tanya :"Adakah dia yang telah Allah pilihkan untukku, sebagai jawaban atas do'a-do'aku ?"
Seperti Allah telah menjawab pintaku dengan cara "misterius"NYA, maka akupun tahu, aku harus mencari jawabannya sesuai dengan jalan yang dikehendakiNYA.
Ku arungi kemudian hari-hariku didalam naungan orang yang kusebut suamiku.
Sebagai Al-faqir, berdua menjalani beratnya mengendalikan perahu kecil kami ditengah ombak kehidupan
Hingga Allah hadirkan bintang-bintang kecil yang mencahayai malam-malam kami
Sinarnya datang satu persatu menghibur dan menghalau penat jiwa kami
Sebelas tahun mendayungi perahu kecilku
Tak sekalipun aku melihatnya berhenti mengasihiku
Walau tak terucap dengan kata-kata karena kesederhanaan cintanya
Namun denyutnya dapat kurasakan dalam nadi perasaanku
Suamiku dulu bukan siapa-siapaku dan mungkin tak pernah mengharapkanku
Namun sejak tanggung jawab ditegakkan, dia tulus menjagaku dan anak-anakku
Hari-harinya diberati beban besar untuk menanggung nafkah bagiku dan empat buah hatinya
Sebelum kehadiranku, rezeki yang didapatkannya dengan susah payah tentu dapat membahagiakan orangtua dan saudara-saudaranya
Namun kedatanganku sebagai istrinya tidak membuatnya merasa telah disempitkan rezekynya, walau dengan itu mungkin akan berkurang kemampuannya untuk membagi nafkahnya kepada orang tua yang dicintainya.
Sungguh semua itu adalah kehormatan bagiku dan tak berhenti syukurku menerima kebaikannya disaat banyak wanita dinista pasangan hidupnya.
Diamanahi empat anak bukanlah hal yang mudah bagi manusia lemah sepertiku
Namun suamiku selalu menemani bahkan disaat-saat tersulitku
Seluruh anak-anakku disambut kehadirannya di dunia ini dengan adzan dan iqamah yang dibisikkan suamiku di telinga mereka.
Agar nama Rabb lah yang pertama kali dikenal di pendengarannya.
Membersihkan kotoran dan mengganti popok mereka bukan hal yang tabu untuknya
Menolongku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahpun tak menjadi keberatannya
Memijit kakiku yang lelah seharian mengurus anak-anak tak membuatnya mengeluh
Dan setiap letihnya bekerja adalah murah harganya,ia tak meminta lebih selain dari secangkir teh hangat dan senyum anak-anakku.
Sungguh suatu kesyukuran besarku menerima karunia manis yang membahagiakan ini, disaat banyak keluarga ditinggalkan nakhodanya.
Sebelas tahun adalah waktu yang tak sedikit untuk hidup bersamaku dengan segala kefaqiranku
Namun ia masih bertahan disisiku
Ia bagai pakaian bagiku, menutupi segala aib dan hinaku
Ia bagai malaikat bagiku, selalu ingin membantu kesulitanku
Ia teman hidupku yang pernah kuminta dahulu dalam setiap do'aku
Seandainya bisa, ingin ku menjadi seperti Ainun bagi Habibie
Seandainya bisa, ingin ku menjadi wanita sederhana yang penuh cinta bagi suaminya
Namun aku hanya manusia biasa yang selalu luput dan khilaf
Karenanya......
Terimakasih Aby...untuk tetap menjadi suamiku...
Maafkan , belum dapat menjadi istri seperti yang kau harapkan
Semoga Allah berkenan menaburkan Fadhal dan RahmatNYA untuk kita
Aamiin.....
Aku mulai tulisan ini dengan mengucap rasa syukurku kepada Rabb yang telah memberiku mau untuk menulis sesuatu yang kuharap akan menggugah lebih dalam lagi rasa syukurku. Menulis adalah salah satu kecintaan duniawiku, padanya aku menikmati memetik kata-kata merah ranum untuk kususun menjadi secawan kalimat indah.
Jika kecintaanku itu telah melukiskan banyak gambaran kehidupan di sekelilingku, maka alangkah pantasnya jika kugoreskan pula hal yang sama tentang orang yang kusayangi.
Bertahun-tahun yang lalu, adalah harapan besarku untuk dapat memiliki rumah tangga dan keluarga yang baik. Baik dalam pandangan manusia, terlebih lagi baik dihadapan Tuhanku.
Selalu kumintakan disetiap do'a-do'aku, kiranya Allah memberiku pasangan hidup yang baik bagiku
Mencintaiku sebagai diriku apa adanya yang terlalu banyak kekurangan dan keterbatasannya.
Dan akupun meminta kepadaNYA agar aku dapat mencintainya sebagai dirinya apa adanya yang tentulah bukan manusia maksum yang sempurna tanpa cacat dan cela.
Aku memohon kepada Rabb-ku, cintaku bersih kepadanya karena Allah semata.
Ketika saat itu tiba....saat-saat dimana Allah mempertemukan kami dengan caraNYA yang tak terduga.
Tak seperti biasanya pertemuan insan lainnya.
Aku menerimanya dengan tanda tanya :"Adakah dia yang telah Allah pilihkan untukku, sebagai jawaban atas do'a-do'aku ?"
Seperti Allah telah menjawab pintaku dengan cara "misterius"NYA, maka akupun tahu, aku harus mencari jawabannya sesuai dengan jalan yang dikehendakiNYA.
Ku arungi kemudian hari-hariku didalam naungan orang yang kusebut suamiku.
Sebagai Al-faqir, berdua menjalani beratnya mengendalikan perahu kecil kami ditengah ombak kehidupan
Hingga Allah hadirkan bintang-bintang kecil yang mencahayai malam-malam kami
Sinarnya datang satu persatu menghibur dan menghalau penat jiwa kami
Sebelas tahun mendayungi perahu kecilku
Tak sekalipun aku melihatnya berhenti mengasihiku
Walau tak terucap dengan kata-kata karena kesederhanaan cintanya
Namun denyutnya dapat kurasakan dalam nadi perasaanku
Suamiku dulu bukan siapa-siapaku dan mungkin tak pernah mengharapkanku
Namun sejak tanggung jawab ditegakkan, dia tulus menjagaku dan anak-anakku
Hari-harinya diberati beban besar untuk menanggung nafkah bagiku dan empat buah hatinya
Sebelum kehadiranku, rezeki yang didapatkannya dengan susah payah tentu dapat membahagiakan orangtua dan saudara-saudaranya
Namun kedatanganku sebagai istrinya tidak membuatnya merasa telah disempitkan rezekynya, walau dengan itu mungkin akan berkurang kemampuannya untuk membagi nafkahnya kepada orang tua yang dicintainya.
Sungguh semua itu adalah kehormatan bagiku dan tak berhenti syukurku menerima kebaikannya disaat banyak wanita dinista pasangan hidupnya.
Diamanahi empat anak bukanlah hal yang mudah bagi manusia lemah sepertiku
Namun suamiku selalu menemani bahkan disaat-saat tersulitku
Seluruh anak-anakku disambut kehadirannya di dunia ini dengan adzan dan iqamah yang dibisikkan suamiku di telinga mereka.
Agar nama Rabb lah yang pertama kali dikenal di pendengarannya.
Membersihkan kotoran dan mengganti popok mereka bukan hal yang tabu untuknya
Menolongku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahpun tak menjadi keberatannya
Memijit kakiku yang lelah seharian mengurus anak-anak tak membuatnya mengeluh
Dan setiap letihnya bekerja adalah murah harganya,ia tak meminta lebih selain dari secangkir teh hangat dan senyum anak-anakku.
Sungguh suatu kesyukuran besarku menerima karunia manis yang membahagiakan ini, disaat banyak keluarga ditinggalkan nakhodanya.
Sebelas tahun adalah waktu yang tak sedikit untuk hidup bersamaku dengan segala kefaqiranku
Namun ia masih bertahan disisiku
Ia bagai pakaian bagiku, menutupi segala aib dan hinaku
Ia bagai malaikat bagiku, selalu ingin membantu kesulitanku
Ia teman hidupku yang pernah kuminta dahulu dalam setiap do'aku
Seandainya bisa, ingin ku menjadi seperti Ainun bagi Habibie
Seandainya bisa, ingin ku menjadi wanita sederhana yang penuh cinta bagi suaminya
Namun aku hanya manusia biasa yang selalu luput dan khilaf
Karenanya......
Terimakasih Aby...untuk tetap menjadi suamiku...
Maafkan , belum dapat menjadi istri seperti yang kau harapkan
Semoga Allah berkenan menaburkan Fadhal dan RahmatNYA untuk kita
Aamiin.....
Senin, 07 Juni 2010
Di Ruang Tulisanku...
Bismillahirrahmanirahim
Kali ini bukan cerpen, bukan puisi bukan pula sebutan-sebutan lainnya. Tetapi sama saja artinya bagiku, buah fikiran dan perasaanku. Tulisanku...
Aku fikir, Allah telah memberi salah satu yang terhebat (setidaknya buatku). Apakah itu?, jawabnya kecanggihan teknologi informasi semacam internet ini. Dan kukira, semua orang berfikir begitu juga saat menyadari apa yang bisa dia buat dengan media ini. Banyak sekali, tak usahlah kusebutkan satu persatu.
Yang jelas, sejak aku mengenal dunia maya ini, tak sadar aku digiring oleh kegemaranku menulis kepada banyak kejutan-kejutan yang memukau. Banyak hal yang tersingkap dari rahasia kehidupan yang seharusnya bisa kujadikan ibrah dan membuatku harus lebih baik menjalani kehidupan ini.
Banyak teman adalah sesuatu hal yang tidak kupercayai dapat kutemukan disini pada awalnya. Di ruang tulisanku. Walaupun aku menyadari internet adalah media informasi dan komunikasi, dan kamar-kamar kreasinya merupakan ruang publik, contohnya seperti blog-ku ini. Namun tetaplah aku merasa nyaman menuangkan segala inspirasi yang singgah di akalku ke dalam bahasa pena dan kalamku. Dan yang paling menyenangkan adalah aku merasa disayangi dan mendapatkan teman-teman baru disini.
Banyak hal mencengangkan bagiku (berlebihankah menurutmu kata ini ? menurutku ini yang sebenarnya) dari kegiatan menulisku di blog ini khususnya. Kutemukan banyak hikmah dari kisah hidup teman atau wataknya atau bahkan kisah cintanya yang bisa kuketahui melalui cara yang tidak terduga. Cara yang tak terduga namun tetap dalam bahasa tulisan, karena sebagian besar teman bloggerku adalah para penulis. Mulai dari penyampaian yang datar tentang kehidupan pribadinya seperti membahas aktivitas-aktivitas kecilnya disertai memajang foto-foto, ada pula yang menyampaikan dengan gaya penulisan yang cerdas tetapi sangat kocak hingga membuatku tertawa sendiri di depan monitorku, ada yang menumpahkan bahagianya karena sedang mengalami jatuh cinta, mengungkapkan kesyukuran hingga kisah pribadi yang menyakitkan dan mengharu biru perasaanku.
Aku pernah mengira....
Jika aku merasa telah kehilangan teman berbicara, teman terakhirku adalah tulisan.....
Namun disini....aku menemukan teman justru karena tulisan...dan demikian juga mereka...
Semoga bukan sekedar pekerjaan sia-sia
Bermain-main kalimat dan kata-kata
Berharap menjadi amal shalih yang bermakna
Menjadi bekal pulang ke asalnya
Tulisan telah menjadi tali persahabatan.....menyambung cinta dan kasih sayang
Dengannya silaturahmi dijalinkan.....semoga tetap demikian adanya Bahkan Allah tambahkan dan tambahkan kebaikan disana
Allahumma aamiin
Kali ini bukan cerpen, bukan puisi bukan pula sebutan-sebutan lainnya. Tetapi sama saja artinya bagiku, buah fikiran dan perasaanku. Tulisanku...
Aku fikir, Allah telah memberi salah satu yang terhebat (setidaknya buatku). Apakah itu?, jawabnya kecanggihan teknologi informasi semacam internet ini. Dan kukira, semua orang berfikir begitu juga saat menyadari apa yang bisa dia buat dengan media ini. Banyak sekali, tak usahlah kusebutkan satu persatu.
Yang jelas, sejak aku mengenal dunia maya ini, tak sadar aku digiring oleh kegemaranku menulis kepada banyak kejutan-kejutan yang memukau. Banyak hal yang tersingkap dari rahasia kehidupan yang seharusnya bisa kujadikan ibrah dan membuatku harus lebih baik menjalani kehidupan ini.
Banyak teman adalah sesuatu hal yang tidak kupercayai dapat kutemukan disini pada awalnya. Di ruang tulisanku. Walaupun aku menyadari internet adalah media informasi dan komunikasi, dan kamar-kamar kreasinya merupakan ruang publik, contohnya seperti blog-ku ini. Namun tetaplah aku merasa nyaman menuangkan segala inspirasi yang singgah di akalku ke dalam bahasa pena dan kalamku. Dan yang paling menyenangkan adalah aku merasa disayangi dan mendapatkan teman-teman baru disini.
Banyak hal mencengangkan bagiku (berlebihankah menurutmu kata ini ? menurutku ini yang sebenarnya) dari kegiatan menulisku di blog ini khususnya. Kutemukan banyak hikmah dari kisah hidup teman atau wataknya atau bahkan kisah cintanya yang bisa kuketahui melalui cara yang tidak terduga. Cara yang tak terduga namun tetap dalam bahasa tulisan, karena sebagian besar teman bloggerku adalah para penulis. Mulai dari penyampaian yang datar tentang kehidupan pribadinya seperti membahas aktivitas-aktivitas kecilnya disertai memajang foto-foto, ada pula yang menyampaikan dengan gaya penulisan yang cerdas tetapi sangat kocak hingga membuatku tertawa sendiri di depan monitorku, ada yang menumpahkan bahagianya karena sedang mengalami jatuh cinta, mengungkapkan kesyukuran hingga kisah pribadi yang menyakitkan dan mengharu biru perasaanku.
Aku pernah mengira....
Jika aku merasa telah kehilangan teman berbicara, teman terakhirku adalah tulisan.....
Namun disini....aku menemukan teman justru karena tulisan...dan demikian juga mereka...
Semoga bukan sekedar pekerjaan sia-sia
Bermain-main kalimat dan kata-kata
Berharap menjadi amal shalih yang bermakna
Menjadi bekal pulang ke asalnya
Tulisan telah menjadi tali persahabatan.....menyambung cinta dan kasih sayang
Dengannya silaturahmi dijalinkan.....semoga tetap demikian adanya Bahkan Allah tambahkan dan tambahkan kebaikan disana
Allahumma aamiin
Rabu, 02 Juni 2010
Bagai Ikan Dalam Samudra
Setiap lembar terbang daunMU
Setiap percik jatuh hujanMU
Setiap butir bergerak pasirMU
Tiada yang diluar KuasaMU
Setiap bisik suara makhlukMU
Setiap titik pandang hambaMU
Setiap desir rasa CiptaanMU
Tiada yang diluar JangkauanMU
Selalu menyertaiku
Selalu memelukku
Selalu bersamaku
Bagai ikan dalam samudra, KAU meliputiku
Tiada tabir perindu tuk bertemu
Tiada tempat pendosa tuk sembunyi
Tiada yang pantas tuk dicinta
Selain DIA, yang Allah asmaNYA
Setiap percik jatuh hujanMU
Setiap butir bergerak pasirMU
Tiada yang diluar KuasaMU
Setiap bisik suara makhlukMU
Setiap titik pandang hambaMU
Setiap desir rasa CiptaanMU
Tiada yang diluar JangkauanMU
Selalu menyertaiku
Selalu memelukku
Selalu bersamaku
Bagai ikan dalam samudra, KAU meliputiku
Tiada tabir perindu tuk bertemu
Tiada tempat pendosa tuk sembunyi
Tiada yang pantas tuk dicinta
Selain DIA, yang Allah asmaNYA
Selasa, 01 Juni 2010
Apa Yang Paling.......................di Dunia
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau mengajukan beberapa pertanyaan:
Imam Ghazali = Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali :" Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran:185)".
Imam Ghazali :" Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1 :Negeri Cina
Murid 2 :Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali :" Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama".
Iman Ghazali :" Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka".
IMAM GHAZALI :" Apa yang paling berat di dunia?"
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : "Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah".
Imam Ghazali :" Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali :" Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat".
Imam Ghazali :" Apa yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-murid dengan serentak menjawab : 'Pedang !"
Imam Ghazali : "Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri".
Semoga bermanfaat...
Imam Ghazali = Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali :" Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran:185)".
Imam Ghazali :" Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1 :Negeri Cina
Murid 2 :Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali :" Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama".
Iman Ghazali :" Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka".
IMAM GHAZALI :" Apa yang paling berat di dunia?"
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : "Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah".
Imam Ghazali :" Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali :" Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat".
Imam Ghazali :" Apa yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-murid dengan serentak menjawab : 'Pedang !"
Imam Ghazali : "Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri".
Semoga bermanfaat...
Minggu, 30 Mei 2010
Ikhlas karena Cinta....
Tiada yang lebih melegakan dan membahagiakan kecuali ikhlas menyaksikan orang yang dicintai bahagia... Ketika sudah tersibak hakikat...semua terlihat sama saja...
Keberadaan diri sudah tak dirasa...
Semuanya hilang seperti ketidakpedulian....
Sifatnya ikhlas, tak bisa menyakiti yang dicintai...
Tak kuat menyaksikan yang disayangi tersiksa...
Kalau masih punya cinta...
Yang tersisa hanya ikhlas...
Tidak ada kenapa Tuhan?....
Tidak ada seandainya....
Hanya senyum....dan sedikit air mata...,karena ternyata....diri ini masih al faqir ...
Keberadaan diri sudah tak dirasa...
Semuanya hilang seperti ketidakpedulian....
Sifatnya ikhlas, tak bisa menyakiti yang dicintai...
Tak kuat menyaksikan yang disayangi tersiksa...
Kalau masih punya cinta...
Yang tersisa hanya ikhlas...
Tidak ada kenapa Tuhan?....
Tidak ada seandainya....
Hanya senyum....dan sedikit air mata...,karena ternyata....diri ini masih al faqir ...
Jumat, 28 Mei 2010
Cincin itu....
Meinar menyimpan payungnya di dekat tangga, walau demikian pakaiannya tetap saja basah terkena air hujan. Ia berlari menyusuri lorong kampusnya yang telah sepi, dicarinya sesorang yang telah menyimpan pesan pendek di hand phone-nya satu jam yang lalu. Isi pesan itu terbaca di layar ponselnya :
"Mei, aku tak kuat lagi, I'm sorry for I've done to you."
Meinar mencari-cari ke setiap sudut ruang kampusnya, beberapa ruang masih dipenuhi oleh mahasiswa lain yang mengikuti kuliah kelas karyawan. Sedang hari semakin gelap, lampu-lampu ruangan dan taman kampus sudah dinyalakan, tapi Mei tetap belum berhasil menemukan orang yang dicarinya.Entah mengapa ia sendiri tak mengerti mengapa ia mencari sang pengirim pesan ke kampusnya, bukan ke tempat kostnya atau tempat lainnya. Ia hanya menuruti intuisinya saja tak ada yang lain.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari ruang auditorium yang biasanya sudah terkunci jika malam hari. Meinar termagnet untuk segera mencari tahu apa yang terjadi disana. Dilihatnya orang-orang berkerumun mengelilingi sesuatu, Meinar mendekat dan ia terbelalak, terkejut tak terkatakan, dilihatnya Ratih tergeletak di lantai auditorium di dekat mimbar, matanya tertutup daannn.... tak ada detak jantungnya terdengar atau denyut nadi yang terasa. Meinar cemas, sangat cemas...dilihatnya jejak air mata di pipi sahabatnya itu masih menggenang dan sebuah inhaller tergeletak di samping tangan kanannya, obat yang selalu Ratih gunakan jika asmanya kambuh.
Meinar meneteskan air matanya, ia teringat betapa Ratih amat menyesal telah membuat suatu berita besar tentang dirinya yang pernah dinodai ayah tirinya di masa yang lalu. Berita itu disebarkan Ratih karena cemburu kepadanya atas hubungannya dengan Bara. Berita yang telah mempermalukannya membuat hubungannya dengan Bara kini retak.
Namun Ratih telah menyesal, dan perbuatannya telah membuat dirinya depresi dan semakin sering kambuh penyakitnya. Entah apa yang dilakukan Ratih di ruang auditorium saat itu Meinar hanya terpaku, menatap cincin yang dikenakan Ratih terukir nama kekasihnya 'Bara'
"Mei, aku tak kuat lagi, I'm sorry for I've done to you."
Meinar mencari-cari ke setiap sudut ruang kampusnya, beberapa ruang masih dipenuhi oleh mahasiswa lain yang mengikuti kuliah kelas karyawan. Sedang hari semakin gelap, lampu-lampu ruangan dan taman kampus sudah dinyalakan, tapi Mei tetap belum berhasil menemukan orang yang dicarinya.Entah mengapa ia sendiri tak mengerti mengapa ia mencari sang pengirim pesan ke kampusnya, bukan ke tempat kostnya atau tempat lainnya. Ia hanya menuruti intuisinya saja tak ada yang lain.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari ruang auditorium yang biasanya sudah terkunci jika malam hari. Meinar termagnet untuk segera mencari tahu apa yang terjadi disana. Dilihatnya orang-orang berkerumun mengelilingi sesuatu, Meinar mendekat dan ia terbelalak, terkejut tak terkatakan, dilihatnya Ratih tergeletak di lantai auditorium di dekat mimbar, matanya tertutup daannn.... tak ada detak jantungnya terdengar atau denyut nadi yang terasa. Meinar cemas, sangat cemas...dilihatnya jejak air mata di pipi sahabatnya itu masih menggenang dan sebuah inhaller tergeletak di samping tangan kanannya, obat yang selalu Ratih gunakan jika asmanya kambuh.
Meinar meneteskan air matanya, ia teringat betapa Ratih amat menyesal telah membuat suatu berita besar tentang dirinya yang pernah dinodai ayah tirinya di masa yang lalu. Berita itu disebarkan Ratih karena cemburu kepadanya atas hubungannya dengan Bara. Berita yang telah mempermalukannya membuat hubungannya dengan Bara kini retak.
Namun Ratih telah menyesal, dan perbuatannya telah membuat dirinya depresi dan semakin sering kambuh penyakitnya. Entah apa yang dilakukan Ratih di ruang auditorium saat itu Meinar hanya terpaku, menatap cincin yang dikenakan Ratih terukir nama kekasihnya 'Bara'
Kamis, 27 Mei 2010
Jebakan Tingkat Tinggi
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sebuah tulisan Untuk Mengingatkan Diri Sendiri
Banyak sekali pelajaran di sekeliling kita yang bisa kita petik hikmahnya.
Mungkin sering kita mendengar
Anak harus mendengar dan taat kepada orangtuanya......KARENA ITU KEHARUSAN
Istri harus mendengar dan taat kepada suaminya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Bawahan harus mendengar dan taat kepada atasannya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Rakyat harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya..........KAREN
A ITU KEHARUSAN
Murid harus mendengar dan taat kepada gurunya............KARENA ITU KEHARUSAN
Budak harus mendengar dan taat kepada majikannya..........KARENA ITU KEHARUSAN
Yunior harus mendengar dan taat kepada seniornya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Ummat harus mendengar dan taat kepada ulamanya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Selama yang didengar dan ditaati itu perihal kebenaran, maka tak ada yang harus diperso'alkan, just do it, kerjakan saja tanpa syarat.
Akan tetapi, apakah hal itu akan berlaku juga apabila perihal kebenaran itu disampaikan secara terbalik ? Jawabannya adalah BELUM TENTU
Mungkin kita sering mendengar
Orang tua tersinggung jika diingatkan oleh anaknya
Suami tersinggung jika diingatkan oleh istrinya
Atasan tersinggung jika diingatkan oleh bawahannya
Guru tersinggung jika diingatkan oleh muridnya
Majikan tersinggung jika diingatkan oleh budaknya
Senior tersinggung jika diingatkan oleh yuniornya
Ulama tersinggung jika diingatkan oleh ummatnya
Bahkan jika yang diingatkan itu adalah kebenaran. Seakan-akan kebenaran itu seperti air, yang harus mengalir dari atas ke bawah. Bahwa pemilik sah ilmu itu hanya milik para Senior.
Terlebih lagi, jika yang mengingatkan itu melakukannya dengan cara yang tidak baik.
Tidak semuanya memang dan tidak selalu.
Jika IKHLAS telah dimiliki......tak sulit untuk menerima sebuah ingatan. Tak berat untuk menerima sebuah kritikan.
Hanya jiwa yang besar yang dapat menampung segala "masukkan" demi kebaikannya sendiri.
Memandang setiap teguran, yang sumbernya datang dari mana saja, baik dari atas maupun dari bawah, dari yang miskin maupun yang kaya, dari yang tua maupun dari yang muda, dari yang berpengalaman maupun yang sedikit pengalaman....
Semuanya sebagai kasih sayang Tuhan, Rabb yang menciptakan kita semua sama-sama anak cucu Nabi Adam as dan Siti Hawwa radiyAllaha-anHa
Sedangkan hakikatnya...
Tak ada orang yang Pandai itu...kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Kaya itu....kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Terhormat itu......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang berilmu itu.......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Bahkan tak ada orang yang hidup itu......kecuali karena Allah telah meminjamkan KehidupanNYA
Dan akan DIA cabut semua itu kembali pada saatnya.
Jadi bagaimana bisa kita berbuat sombong di bumi milikNYA ini, sedang tak ada yang kita punya melainkan semuanya hanya PINJAMAN SANG PENCIPTA...
Beruntunglah orang yang selalu menangisi aibnya diri dan berusaha untuk selalu memperbaikinya
Mengendalikan sekuatnya hawa nafsunya agar dapat pulang kembali dengan selamat, bertemu dengan DirinNYA, yang Allah asmaNYA.
Wallahu a'lam
Sebuah tulisan Untuk Mengingatkan Diri Sendiri
Banyak sekali pelajaran di sekeliling kita yang bisa kita petik hikmahnya.
Mungkin sering kita mendengar
Anak harus mendengar dan taat kepada orangtuanya......KARENA ITU KEHARUSAN
Istri harus mendengar dan taat kepada suaminya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Bawahan harus mendengar dan taat kepada atasannya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Rakyat harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya..........KAREN
Murid harus mendengar dan taat kepada gurunya............KARENA ITU KEHARUSAN
Budak harus mendengar dan taat kepada majikannya..........KARENA
Yunior harus mendengar dan taat kepada seniornya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Ummat harus mendengar dan taat kepada ulamanya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Selama yang didengar dan ditaati itu perihal kebenaran, maka tak ada yang harus diperso'alkan, just do it, kerjakan saja tanpa syarat.
Akan tetapi, apakah hal itu akan berlaku juga apabila perihal kebenaran itu disampaikan secara terbalik ? Jawabannya adalah BELUM TENTU
Mungkin kita sering mendengar
Orang tua tersinggung jika diingatkan oleh anaknya
Suami tersinggung jika diingatkan oleh istrinya
Atasan tersinggung jika diingatkan oleh bawahannya
Guru tersinggung jika diingatkan oleh muridnya
Majikan tersinggung jika diingatkan oleh budaknya
Senior tersinggung jika diingatkan oleh yuniornya
Ulama tersinggung jika diingatkan oleh ummatnya
Bahkan jika yang diingatkan itu adalah kebenaran. Seakan-akan kebenaran itu seperti air, yang harus mengalir dari atas ke bawah. Bahwa pemilik sah ilmu itu hanya milik para Senior.
Terlebih lagi, jika yang mengingatkan itu melakukannya dengan cara yang tidak baik.
Tidak semuanya memang dan tidak selalu.
Jika IKHLAS telah dimiliki......tak sulit untuk menerima sebuah ingatan. Tak berat untuk menerima sebuah kritikan.
Hanya jiwa yang besar yang dapat menampung segala "masukkan" demi kebaikannya sendiri.
Memandang setiap teguran, yang sumbernya datang dari mana saja, baik dari atas maupun dari bawah, dari yang miskin maupun yang kaya, dari yang tua maupun dari yang muda, dari yang berpengalaman maupun yang sedikit pengalaman....
Semuanya sebagai kasih sayang Tuhan, Rabb yang menciptakan kita semua sama-sama anak cucu Nabi Adam as dan Siti Hawwa radiyAllaha-anHa
Sedangkan hakikatnya...
Tak ada orang yang Pandai itu...kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Kaya itu....kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Terhormat itu......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang berilmu itu.......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Bahkan tak ada orang yang hidup itu......kecuali karena Allah telah meminjamkan KehidupanNYA
Dan akan DIA cabut semua itu kembali pada saatnya.
Jadi bagaimana bisa kita berbuat sombong di bumi milikNYA ini, sedang tak ada yang kita punya melainkan semuanya hanya PINJAMAN SANG PENCIPTA...
Beruntunglah orang yang selalu menangisi aibnya diri dan berusaha untuk selalu memperbaikinya
Mengendalikan sekuatnya hawa nafsunya agar dapat pulang kembali dengan selamat, bertemu dengan DirinNYA, yang Allah asmaNYA.
Wallahu a'lam
Selasa, 25 Mei 2010
Ikhlas.....
Dunia menjadi sebuah tempat yang ambigu bagi manusia bergantung pada keadaannya.
Katanya....
Hampir punah kebaikan-kebaikan di akhir zaman ini
Tersiar kabar berita bahwa terjadi banyak kehancuran nilai kebaikan
Orang telah tak perduli sesamanya bahkan walaupun terdapat ikatan saudara, sedarah maupun seagama
Orang kini dengan mudahnya merusak dan merampas harta orang lain asalkan dilakukan beramai-ramai
Orang kini dengan mudahnya menyakiti dan menyiksa asalkan terlampiaskan benci dan angkaranya
Orang kini dengan mudahnya membunuh dan menganiaya asalkan terpenuhi cita-citanya
Sulit menemukan senyuman dikeseharian
Sulit mendengar kata-kata yang santun di pergaulan
Sulit mendapat pertolongan saat kesusahan
Sulit tidak dighibahkan orang
Sulit mendapatkan iba dan kasih sayang
Sulit menerima ketentuan Allah yang Menciptakan
Jika tak seagama tak boleh ada cinta
Jika tak senegara tak boleh ada kerukunan
Jika tak sebangsa tak boleh ada kesetiaan
Jika tak sedarah sekelahiran tak boleh ada kasih sayang
Aduhai...
Dimanakah kini keberkahan ?
Tiadakah kini Keikhlasan...?
Katanya...
Shalat itu mudah ditegakkan kepada Rabb yang Menciptakan, asal ada keikhlasan
Tersenyum itu mudah dihadiahkan kepada siapa yang kita kenal, asal ada keikhlasan
Sedekah itu mudah diberikan kepada siapa yang memerlukan, asal ada keikhlasan
Berkata-kata baik itu mudah diucapkan kepada saudara,sahabat dan teman, asal ada keikhlasan
Berbaring mensyukuri penyakit dari Tuhan itu mudah dilakukan, asal ada keikhlasan
Berperang melawan kebhatilan baik bathilnya hawa nafsu maupun musuh yang menyengsarakan itu mudah dilaksanakan, asal ada keikhlasan
Kesemuanya itulah makna membaca dan mengamalkan Al-qur,an, akan mudah diwujudkan, jika ada keikhlasan.
Ya Rabb...
Jadikanlah kami hamba-hambaMU yang ikhlas, yaitu tiada yang lain memenuhi hati kami selain DIRIMU...
Yang karenanya tiada kami bekerja dan bergaul sehari-hari melainkan karena untuk mensucikanMU
Yang karenanya tiada kami diam ataupun berkata-kata melainkan karena untuk meninggikanMU
Yang karenanya tiada yang kami lakukan melainkan yang menjadi keridha'anMU
Yang karenanya tiada yang kami cita-citakan hanya pertemuan denganMU
Ikhlas...
Kata itu mudah diucapkan tetapi berat untuk dibuktikan
Semoga Allah pun berkenan, agar kami dapat menjadi pemiliknya
Allahumma Aamiin
Katanya....
Hampir punah kebaikan-kebaikan di akhir zaman ini
Tersiar kabar berita bahwa terjadi banyak kehancuran nilai kebaikan
Orang telah tak perduli sesamanya bahkan walaupun terdapat ikatan saudara, sedarah maupun seagama
Orang kini dengan mudahnya merusak dan merampas harta orang lain asalkan dilakukan beramai-ramai
Orang kini dengan mudahnya menyakiti dan menyiksa asalkan terlampiaskan benci dan angkaranya
Orang kini dengan mudahnya membunuh dan menganiaya asalkan terpenuhi cita-citanya
Sulit menemukan senyuman dikeseharian
Sulit mendengar kata-kata yang santun di pergaulan
Sulit mendapat pertolongan saat kesusahan
Sulit tidak dighibahkan orang
Sulit mendapatkan iba dan kasih sayang
Sulit menerima ketentuan Allah yang Menciptakan
Jika tak seagama tak boleh ada cinta
Jika tak senegara tak boleh ada kerukunan
Jika tak sebangsa tak boleh ada kesetiaan
Jika tak sedarah sekelahiran tak boleh ada kasih sayang
Aduhai...
Dimanakah kini keberkahan ?
Tiadakah kini Keikhlasan...?
Katanya...
Shalat itu mudah ditegakkan kepada Rabb yang Menciptakan, asal ada keikhlasan
Tersenyum itu mudah dihadiahkan kepada siapa yang kita kenal, asal ada keikhlasan
Sedekah itu mudah diberikan kepada siapa yang memerlukan, asal ada keikhlasan
Berkata-kata baik itu mudah diucapkan kepada saudara,sahabat dan teman, asal ada keikhlasan
Berbaring mensyukuri penyakit dari Tuhan itu mudah dilakukan, asal ada keikhlasan
Berperang melawan kebhatilan baik bathilnya hawa nafsu maupun musuh yang menyengsarakan itu mudah dilaksanakan, asal ada keikhlasan
Kesemuanya itulah makna membaca dan mengamalkan Al-qur,an, akan mudah diwujudkan, jika ada keikhlasan.
Ya Rabb...
Jadikanlah kami hamba-hambaMU yang ikhlas, yaitu tiada yang lain memenuhi hati kami selain DIRIMU...
Yang karenanya tiada kami bekerja dan bergaul sehari-hari melainkan karena untuk mensucikanMU
Yang karenanya tiada kami diam ataupun berkata-kata melainkan karena untuk meninggikanMU
Yang karenanya tiada yang kami lakukan melainkan yang menjadi keridha'anMU
Yang karenanya tiada yang kami cita-citakan hanya pertemuan denganMU
Ikhlas...
Kata itu mudah diucapkan tetapi berat untuk dibuktikan
Semoga Allah pun berkenan, agar kami dapat menjadi pemiliknya
Allahumma Aamiin
Minggu, 23 Mei 2010
Fiksi mini di hari Minggu
Gadis itu menyembunyikan tetesan air di matanya dengan kibasan jemari di pipinya.
Mencoba tak mengajak air matanya untuk turut merasakan gundahnya.
Namun ia tak berhasil, air mata itu terus meluap mencari kepuasan di keelokan dagunya
Gadis itu bangkit menutup jendela yang dihempas angin timur
Lautan sedang bergelora kini, namun tak sehebat gejolak dihatinya.
Dari kejauhan nampak bayangan yang ia kenal
Bayangan itu seolah mengawasinya
Bahkan ia melambaikan tangan ke arahnya
Bayangan seseorang yang kemarin ia hadiri pemakamannya
Mencoba tak mengajak air matanya untuk turut merasakan gundahnya.
Namun ia tak berhasil, air mata itu terus meluap mencari kepuasan di keelokan dagunya
Gadis itu bangkit menutup jendela yang dihempas angin timur
Lautan sedang bergelora kini, namun tak sehebat gejolak dihatinya.
Dari kejauhan nampak bayangan yang ia kenal
Bayangan itu seolah mengawasinya
Bahkan ia melambaikan tangan ke arahnya
Bayangan seseorang yang kemarin ia hadiri pemakamannya
Sabtu, 22 Mei 2010
Pembuat gelap tak sadar membuat gelap....
Bismillahirrahmaanirrahiim
Rabby.....
Inilah bumiku....bumi tempat tinggalku....bumi tempat KAU hidupkan aku....
Bumi yang semakin pesat kemajuan peradaban masyarakatnya tetapi semakin terpuruk kedalam jurang kehancurannya.
Bagaimana tidak...telah KAU izinkan kami memiliki dan menikmati kemajuan abad ini namun kami campakkan ni'matMU dengan kesombongan kami.
Menangis cacing-cacing dalam tanah
Merintih burung-burung yang selalu bertasbih
Melihat perbuatan ummat manusia zaman ini yang semakin bergelimang dengan segala kealpaannya terhadap Rabbnya. Seluruh waktunya dihabiskan untuk melampiaskan hawa nafsunya kecuali sedikit (saja yang ditinggalkan untuk berbuat kebajikan).
Bagaimana orang-orang semakin berani menyakiti orang tuanya atas nama apapun bahkan atas nama agama
Bagaimana orang-orang semakin berani menyiksa dan melukai anak-anak darah dagingnya ataupun darah daging orang lain yang seharusnya dijaga dan dilindungi
Bagaimana orang-orang semakin berani melepas seluruh pakaiannya dihadapan yang bukan mahramnya
Bagaimana orang-orang semakin berani memuaskan syahwatnya pada tempat-tempat yang dibenci Tuhannya
Bagaimana orang-orang semakin berani menghina dan merendahkan martabat manusia lainnya
Bagaimana orang-orang semakin berani saling berperang tanpa hak
Bagaimana orang-orang semakin berani mengambil paksa milik manusia lainnya yang bukan hasil jerih payahnya.
Bagaimana orang-orang semakin berani menuduh dan mendakwa orang lain berada di atas kesalahan sedang dirinya berada di atas kebenaran atas nama ideologi ataupun agama
Bagaimana orang-orang semakin berani menjadikan nafsu sebagai tuhannya.
Tercenung aku dihadapan perkataan Guruku:
Pembuat gelap yang sama sekali tidak menyadari membuat gelap
Yang diyakini malah telah berbuat padang dan terang benderang
Yang diyakini telah berjalan di tempat yang benar dan diridhai Tuhan
Karena itu maka dibela habis-habisan
Padahal gelap yang dibuatnya itu telah nyata menggelapkan jagadnya sendiri dan juga jagadnya manusia dalam hidup dan kehidupannya
Berada di tempat gelap tetapi sama sekali tidak merasa berada di tempat yang gelap
Hidup dengan nafsu yang sungguh gelap dan watak akunya yang gelapnya menghebat
Lalu iblis dan tentaranya yang madangi (menerangi) dengan api
Api itu telah benar-benar membakar habis kebenaran
Maka cerdik pandainya, cerdik pandainya gelap dengan api
Pakarnya, pakar gelap dengan api
Kekuasaannya, kekuasaan gelap dengan api
Ngaturnya, mengatur gelap dengan api
Sistemnya, sistem gelap dengan api
Tujuannya gelap dengan api
Yang diperoleh gelap dengan api di tempat sesat
Seakan-akan bumi ini telah semakin lemah akan "beban yang semakin berat".
Kerusakan yang dibuat umat manusia dengan "tangannya" akibat mempertuhan hawa nafsunya telah mengundang bencana dimana-mana.
Bencana kapan saja dan dimana saja. Kerusakan alam dan wabah penyakit, banjir dan kebakaran, gempa bumi, angin taufan hingga Tsunami. Telah tak memilih korbannya laki-laki atau wanita, miskin ataupun kaya, anak-anak atau dewasa. Semua dilibasnya atas izin Tuhannya.
Rabby...
Seakan-akan mereka ingin mengabarkan...
Bahwa Engkau telah dipersekutukan
Engkau telah tak diperdulikan
Sedang DzatMU sangatlah Dekat
Yang senantiasa menyertai dan meliputi setiap yang ada
Yang Al-Ghaib tetapi mutlak keberadaanNYA
Yang amat menginginkan dikenali oleh hamba-hambaNYA
Oleh sebab itu Engkau telah mengutus para Rasul dan wakilnya
Agar menjadi pelita bagi semua hamba
Yang menginginkan keselamatan
Yang merindukan pertemuan
Dengan kekasih tumpuan Harapan
Allah sang Maha Rahman
Semoga Allah menjadikan kami hamba-hamba yang senantiasa ditunjuki dengan hidayahNYA
Allahumma aamiin
Kamis, 20 Mei 2010
Tenggelam
Dia menutup kelopak matanya dan menggumam :"hmm.." Seketika! ia tenggelam dalam rahasia yang selalu ia intai di kedalaman dzikirnya.
Ahaa...pengalaman baru. Membuat fiksi mini ternyata mengasyikkan juga. Lagi seneng ikutan lomba niih.
Untuk Kontes Fiksi Mini yang diselenggarakan oleh wi3nda yang punya blog -wi3nd- juga yang baca postingan ini boleh ikutan juga tuh :)
Semoga menambah ilmu, menambah pengalaman, dan yang pasti menambah amal baik. Aamiin
Bogor 21 Mei 2010
Ahaa...pengalaman baru. Membuat fiksi mini ternyata mengasyikkan juga. Lagi seneng ikutan lomba niih.
Untuk Kontes Fiksi Mini yang diselenggarakan oleh wi3nda yang punya blog -wi3nd- juga yang baca postingan ini boleh ikutan juga tuh :)
Semoga menambah ilmu, menambah pengalaman, dan yang pasti menambah amal baik. Aamiin
Bogor 21 Mei 2010
Rabu, 19 Mei 2010
Gerobak Untuk anak-anakku
Sebuah nostalgia dan pernah saya posting beberapa waktu yang lalu. Untuk keperluan Kontes Blog "Berbagi Kisah Sejati" maka saya posting ulang kembali. Dan atas perkenan Mbak Anazkia sang penyelenggara dan sponsor yang telah sepenuh hati mendukung hal ini yaitu Denaihati, saya haturkan terimakasih atas kesempatan ini.Semoga kisah berdasar pengalaman pribadi saya ini tidak mengecewakan. Alhamdulillah
Sejak kepindahan keluarga kami dari kota Bandung, sudah sekitar dua tahun lebih tidak melihatnya. Entah mengapa, sekarang aku teringat lagi kepada mereka.
Seorang Bapak pemulung yang setiap hari memutari perumahan tempat kami tinggal untuk memungut apa saja barang-barang dari tempat sampah warga perumahan yang bisa ia jual kembali. Barang-barang bekas dari plastik atau kardus yang telah menjadi sampah itu diletakkannya di dalam gerobaknya yang ia tarik setiap hari kemanapun ia pergi.
Di dalam gerobak penuh barang-barang bekas itu duduk anak laki-lakinya yang berusia sekitar 2 tahun (pada saat itu) 'anteng' bermain-main dengan mobil-mobilan yang didapat ayahnya dari tempat mana lagi selain tempat sampah orang.
Dibelakang gerobak yang ditarik sang bapak, berjalan istrinya dengan menggendong seorang bayi perempuan. Berjalan mengikuti kemana saja suaminya pergi,sambil sesekali ia pungut juga sesuatu yang belum terambil oleh suaminya.
Demikian setiap hari, keluarga kecil itu beriringan berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain, "menyulap" sampah orang untuk dijadikan sebungkus nasi untuk keluarganya.
Suatu pemandangan yang menyentuh hati, menyaksikan ketabahan mereka.
Jika aku sedang merawat tanamanku, atau menyapu halaman, kulihat dari sudut mataku, sang bapak berdiri diam di pintu pagar rumahku. Tidak mengatakan atau meminta sesuatu apapun kecuali menyapaku dengan kata-kata yang kadang-kadang sulit kumengerti karena baru tersadari bapak pemulung ini ternyata kurang fasih dalam berbicara sehingga terkesan seperti sedang bergumam tapi aku tahu pasti dia berbicara dalam bahasa Indonesia.
Jika sudah demikian, aku hanya tersenyum dan mengangguk saja. Awalnya ada rasa 'takut', tetapi setelah melihat anak-anak dan istrinya, rasa itu berganti menjadi iba. Jika ditawarkan sesuatu, makanan atau barang, maka nampak mimik senang di wajahnya.
Semakin lama aku dan keluarga mereka semakin "akrab". Keakraban yang hanya bisa difahami oleh masing-masing hati kami, karena tidak pernah ada obrolan panjang diantara kami. Istrinyapun bahkan tidak pernah bicara, hanya mengggendong bayinya dan memperhatikan si sulung di dalam gerobaknya.
Jika telah selesai "urusan"nya di rumahku, maka mereka akan segera melanjutkan perjalanannya ke gang-gang lain, dari satu pintu pagar ke pintu pagar yang lain, mengais-ngais sampah di halaman orang.
Saat mereka menjauh, dari belakang sering kuperhatikan keluarga itu. Betapa hebatnya 'perumpamaan' yang Allah berikan melalui figur mereka. Seluruh "dunia" mereka hanya sepenuh gerobak yang ditarik sang pemulung. Tak punya walau segubuk kumuh untuk tempat berteduh, tak ada janji makanan apa yang bisa ditemukan hari ini untuk istri dan anak-anak balitanya, tak ada ganti untuk pakaian kotor dan kumal. Betapa menakjubkannya Allah Tuhanku, dimana mereka berteduh jika datang hujan lebat? kemana mereka pergi mendapatkan makan dan minuman? apakah berhasil menemukan nasi, yang cukup untuk empat orang? bagaimana dalam keadaan seperti itu, anak-anak mereka nampak gemuk dan sehat walau terlihat kotor dan lusuh?.
Sulit kubayangkan jika kucoba membandingkan dengan keadaanku, saat istri pemulung itu hamil lalu melahirkan. Dimana bersalinnya dan siapa yang menolongnya? Apakah mereka mendapatkan barang sedikit popok atau kain untuk bayinya?. Bagaimana jika salah satu atau kedua anak mereka sakit atau demam ? Apakah mereka tahu dan bisa membeli obat penurun panas untuk meredakan sakit anaknya? apakah mereka memiliki selimut untuk menghangatkan tubuh buah hatinya?
Maha Suci Allah yang Maha Agung
Jika DIA memberikan rezekyNYA kepada cacing-cacing tak bermata dalam tanah, atau belatung-belatung lemah dalam makanan busuk, atau dia berikan rezekyNYA kepada Kecoa, Kelabang, Tikus di got-got. Maka tentu telah DIA sediakan pula rezekiNYA yang Maha Luas bagi keluarga ini.Karena sesunguhnya DIA lah Sang Maha Pemelihara.
Kini aku telah tinggal di tempat yang jauh dari mereka. Tidak kusaksikan lagi salah satu ayat Tuhan itu. Tidak pernah kudengar lagi berita tentang mereka.
Kecuali pada suatu hari, alangkah gembiranya aku ketika mudik ke rumah orang tuaku dimana tidak jauh dari rumahku dulu. Allah pertemukan kembali aku dengan mereka. Tidak berbeda dengan masa yang lalu, sang Ayah menarik tali gerobaknya yang tersangkut di pundak dan tangan di tiang gerobaknya. Hanya saja kala itu yang berada dalam gerobak bukan hanya Sang Kakak yang telah tumbuh besar, tetapi juga sang adik perempuan yang telah berusia kira-kira dua tahun.
Tetapi ada yang kurang....Dimana sang Ibu?
Saat kutanyakan kepada bapak pemulung itu, dengan wajah murung ia mengabarkan bahwa ibu anak-anak telah pergi entah kemana. Meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masih teramat kecil. Pergi karena tak kuat menahan penderitaan kehidupan mereka. Tanpa kabar,tanpa berita.
Aku menatap anak-anak itu di dalam gerobak sang pemulung, sedang asyik bercengkrama. Tidak tahu kemana ibu mereka pergi. Hanya kepada Ayah tempat mereka bergantung kini.
Kubayangkan anak-anakku sendiri. Rahma satu tahunku. Bagaimana keadaannya jika tiba-tiba kutinggalkan pergi dan tak kembali. Sedang sehari-hari 24 jam dia bersamaku, menikmati hari-harinya bersama orang yang bisa dipanggilnya ibu. Bagaimana dengan mereka? anak-anak yang sebaya dengan anak-anakku? anak-anak kita semua? Mereka balita, sangat polos dan lugu.
Tetapi pertanyaan itu tak pernah terjawab, seiring berlalunya sang pemulung. Membawa jauh seluruh "dunia"nya, barang-barang rongsokan dan kedua buah hatinya.
Semoga Allah selalu Melindungi mereka, Menyelimuti mereka dengan Kasih dan SayangNYA, Membekalkan Ilmu , mengaruniakan kesehatan dan kesejahteraan, serta menghadiahkan Keselamatan.
Allahumma ya Rabby,Aamiin.
-------------------------------------------------------------------------
Catatan : Terakhir menurut cerita tetangga lamaku yang masih tinggal di Bandung, sekarang sang Ayah kembali menarik gerobaknya tanpa kedua anaknya, entah apa yang terjadi...wallahu a'lam
Selasa, 18 Mei 2010
Munajatku
Bismillahirrahmaanirrahiim
Ya Rabb...
Ketika asaku mulai terangkat naik, menjangkau impian lama agar ku dapat berdiri tegak
Masih saja ada aral yang menahan laju kakiku ini hingga kembali asaku harus terjerembab lagi
Sedang kejaran waktu semakin menyesak dadaku tiada tempat menerimaku dapat berdikari
Ingin melepas semua belenggu itu namun selalu ada akar yang melilitku
Tiada yang kuinginkan melainkan agar dapat membuat banyak kebaikan
Untuk dapat turut menegakkan cita-citanya Wasithah
Aku meyakini jalanku dari Rabbku sesungguhnya terbentang lebar
Namun belum kutemukan dimanakah tempatnya
Jika DIA melapangkan makhluk-makhluk lemah tak berakal dan orang-orang ingkar
Tentulah DIA tak akan kikir kepadaku menahan sepercik dari isi "LumbungNYA"
DIA Al Ghaniyu, DIA-lah Ar Rozzaq, DIA tak membutuhkan dan tak meminta makan minum kepada ku
Melainkan akulah yang lemah dan sangat MembutuhkanNYA
YA Rabb yang Maha Dekat dan Yang Mengabulkan segala pinta
Mudahkanlah untukku perkaraku
Jadikanlah mudah apa yang kini nampak sulit bagiku
Jadikanlah ringan apa yang kini nampak berat bagiku
Sibukkanlah aku denganMU Rabbku...
Hanya denganMU
Ya Rabb...
Ketika asaku mulai terangkat naik, menjangkau impian lama agar ku dapat berdiri tegak
Masih saja ada aral yang menahan laju kakiku ini hingga kembali asaku harus terjerembab lagi
Sedang kejaran waktu semakin menyesak dadaku tiada tempat menerimaku dapat berdikari
Ingin melepas semua belenggu itu namun selalu ada akar yang melilitku
Tiada yang kuinginkan melainkan agar dapat membuat banyak kebaikan
Untuk dapat turut menegakkan cita-citanya Wasithah
Aku meyakini jalanku dari Rabbku sesungguhnya terbentang lebar
Namun belum kutemukan dimanakah tempatnya
Jika DIA melapangkan makhluk-makhluk lemah tak berakal dan orang-orang ingkar
Tentulah DIA tak akan kikir kepadaku menahan sepercik dari isi "LumbungNYA"
DIA Al Ghaniyu, DIA-lah Ar Rozzaq, DIA tak membutuhkan dan tak meminta makan minum kepada ku
Melainkan akulah yang lemah dan sangat MembutuhkanNYA
YA Rabb yang Maha Dekat dan Yang Mengabulkan segala pinta
Mudahkanlah untukku perkaraku
Jadikanlah mudah apa yang kini nampak sulit bagiku
Jadikanlah ringan apa yang kini nampak berat bagiku
Sibukkanlah aku denganMU Rabbku...
Hanya denganMU
Langganan:
Postingan (Atom)

