This foto belong to AFSP Central Florida

Jumat, 18 Juni 2010

Allah Knows




When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows


When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows


No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows
Allah knows


And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows


When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows


When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows


When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows


You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows


BRIDGE:
Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows


Artist : Zain Bikha

Kamis, 17 Juni 2010

God Spot ; Menjadi hamba yang berkibar dengan Tuhannya

Bismillah

Berdesir hati saya saat membaca sebuah artikel yang bagi saya sangat "mencerahkan" akal budi dan kesadaran bathin. Artikel itu bertema 'God Spot' *Titik Tuhan* dimana selama ini orang memahami hal itu pusatnya berada di otak. Mungkin tidak sepenuhnya salah, namun penjelasan-penjelasan yang selama ini ada kurang detail.

Artikel itu mengangkat dua ayat dalam Al-Qur'an yaitu :
QS.Al-Anfal : 2
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan Allah (nama Tuhan yang Al-Ghaib tetapi mutlak adaNYA) maka gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNYA bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".

QS.Az-Zumar : 23
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutunya) lagi berulang-ulang. gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah".

Apa hubungannya kedua ayat diatas dengan God Spot yang dimaksud ?
Melihat ayat tersebut diatas dimana disebutkan gemetar kulit orang beriman jika disebutkan Nama Allah, dan ayat kedua menyebutkan menjadi tenanglah kulit dan hati orang yang mengingat sang Pemilik Nama Allah. Mengapa disebut dalam al-Qur'an kata 'Kulit'?
Dimulai dari otak yang menerima "sentuhan" dari panca inderanya lalu bereaksi yang menyampaikan pesan yang diterimanya keseluruh tubuh.hingga ke kulit ari sekalipun akan menerima akibat dari penerimaan otak tersebut.
Jika kita mampu mengiqra' hingga ke unsur yang paling halus berupa DNA manusia, maka kita akan melihat DNA itu selalu bergerak selalu bergetar yang jika didengarkan dengan alat yang sangat sensitif, maka kita akan mendengar getarannya berbunyi dan bunyinya seperti suara dzikir. Apabila kita berdzikir, suaranya akan monoton demikian pula dengan DNA. Hal ini membuktikan bahkan hingga unsur terkecil sekalipun, jagad ciptaan Allah ini selalu bergetar,  bergerak,  berdzikir. Belum lagi jika menyimak organ-organ manusia yang ukurannya jauh lebih besar dari DNA seperti jantung, ginjal, hati, paru-paru bahkan dagingpun selalu bergerak di jagad jasmaninya manusia yang masih hidup.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang sangat sempurna . Apabila sel otak manusia aktif akan menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah, bayangkan Malaikat saja sampai "minder" saat Nabi Adam as diberi ilmu pengetahuan oleh Allah (QS.Al-Baqarah 30-33) dan apabila kasasitas sel otak manusia aktif seluruhnya bakal terkuak seluruh rahasia alam ini. bahkan Al-Qur'an pun akan terkuak rahasianya. Disinilah kelemahan manusia selama ini yakni tidak memfungsikan akalnya sebagai baitul makmur yaitu bait/rumah tempat memakmurkan Dzat,Sifat dan Af'alNYA yang Al-Ghaib tetapi mutlak keberadaanNYA, yang Allah asmaNYA.

Saya termenung, sedangkan diri ini masih lebih "digetarkan" oleh hal-hal selain DiriNYA, pantaslah jika masih merasa lelah dengan kesibukan-kesibukan duniawi. Walaupun akan dianggap wajar kelelahan itu karena memang diri ini masih berjiwa raga, namun itu semua disadari karena jiwa raga yang lelah ini memang seringkali kosong dari dzikir, hampa dari tafakur, jauh dari  berkhalwat hanya dengan diriNYA.

Mengingat-ingatNYA, senantiasa mendzikiriNYA akan membuat setiap sel dari trilyunan sel yang ada dalam tubuh manusia bergerak, berputar, dinamis menajadi motor bagi sang insan untuk selalu bekerja berusaha hanya demi mensucikanNYA. DimampukanNYA mengelola garapan dunia semata-mata untuk memproses pensucian dirinya. Segala tingkah laku dan perbuatannya serta gerak gerik bathinnya sama sekali tidak diperintah oleh hawa nafsu dan watak 'aku'nya tetapi murni mengikuti kehendak Rabbnya.

Menjadi hamba yang senantiasa berkibar dengan Tuhannya.
Wallahu a'lam

Rabu, 16 Juni 2010

Yang Baru di Kedamaianku...

Takjub...? Atau aneh ?
Hmmm mungkin berbeda-beda perasaan dan komentar orang melihat template baruku disini sekarang ya (^;^)
Apa maksudnya dengan tampilan baru blogku ini saat ini?

Sebetulnya tidak ada alasan apa-apa selain dari  tenang telaganya yang ingin dikesankan. Adapun latar belakang gedung-gedung dan cahaya lampunya hanya hiasan yang kuharap bisa menggantikan kerlip bintang di Telagaku.

Kubayangkan, aku duduk di pinggir telaga ini memandang gedung-gedung mempesona di seberang sana. Sebuah ironi yang ingin kupelajari maknanya. Aku disini dengan segala keterbatasanku dan lingkunganku sedang mereka dengan segala kenyamanan dunia yang melingkupinya. Tak ingin kubuat pemandangan ini menjadi sebuah sesalan. Bahkan kunikmati sebagai kesyukuran karena aku telah dijauhkan dari "tirai" yang dapat semakin menyamarkan "pandanganku kepadaNYA".

Ya....tak ingin kubedakan, apakah gunung-gunung bisu atau gedung-gedung berkilauan. Semua setara hanya ciptaan Tuhan. Meski tetaplah manusia fana amat mencintai keindahan. Namun tak seharusnya kesempitan, kegelapan, kemiskinan, keburukkan menjadi musuh. Mereka bahkan teman yang akan selalu mengingatkan  akan keterbatasan kita.

Hanya sekedar template baru, berharap tamu-tamuku merasa nyaman didalamnya dan semakin mensyukuri keberadaanNYA.
Adakah hubungannya ???  SANGAT ,,,tentu saja !

Selamat menikmati jamuan...sudah memasuki bulan Rajab, tak lama lagi mendekati bulan yang dirindukan. Semoga diizinkan, bertemu bulan Ramadhan.

Minggu, 13 Juni 2010

Menang atau Profesional ?

Bismillah

Segala puji hanya milik Allah yang memberiku rasa senaaang hari ini (mudah-mudahan nggak terlalu ya). Walaupun agak terlambat tapi syukurlah akhirnya bisa tahu informasinya. Tulisanku yang diikutkan pada Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan mbak Anazkia  dan disponsori oleh Denaihati beruntung mendapat peringkat ke-3 dari 89 peserta yang mengikuti kontes ini. Judul kisah yang aku ikutkan di kontes itu adalah Gerobak Untuk Anakku


Ini lomba pertamaku yang mendapat penghargaan dari ajang festival atau kontes tulisan, jadi buatku sangat berarti. Tapi, bagaimanapun, aku tetap meyakini bahwa mungkin juga ini hanya so'al keberuntungan saja, soal rezeky. Allah yang menggerakkan para juri itu menentukan pilihannya, so aku berusaha untuk tidak terlalu senang jika mendapat kemenangan begitu juga berusaha untuk tidak terlalu kecewa jika mendapatkan kekalahan.

Tidak hanya satu kontes yang aku ikut terlibat di dalamnya, kuikuti beberapa lomba lainnya seperti yang terakhir lomba Puisi Kocak-nya mbak Fany yang ditemani mbak Fanda dalam penjuriannya atau lomba Pre-Review-nya mbak Clara tapi dalam lomba-lomba itu aku belum beruntung. Dalam keyakinanku, Allah juga yang menggerakan para juri itu untuk tidak memilihku menjadi pemenangnya dan juga peserta-peserta lain yang ber"nasib" sama denganku.

Intinya adalah mengikuti lomba-lomba semacam itu sangat positif dan besar manfaatnya untuk membuat kita lebih terpacu untuk berkarya dan berkarya. Menjadikan tulisan sebagai media untuk kita bisa saling menginspirasi, saling memotivasi, saling mendukung satu sama lain, sebagai wujud persahabatan dan persaudaraan khususnya antar para nara-blogger.

Tidak masalah untuk menjadi pemenang ataupun tidak, walaupun motivasi awalnya tentu saja para peserta lomba sangat mengharapkan kemenangan. Namun kembali ke awal, semua hanya masalah rezeky dan masalah waktu yang bisa jadi jalannya adalah masalah selera juri hehehe. Betul kan?


Masalah selera ini memang sulit diganggu gugat, karena hal ini masalah rasa yang setiap orang berbeda-beda ambang penerimaannya. Misalnya waktu ada pengumuman lomba pemenang puisi kocak, yang menurut jurinya diantara semua peserta yang menyertakan puisi kocaknya nyasulit sekali menemukan puisi yang bisa membuat mereka sekedar mesem apalagi sampai tertawa berguling-guling (hehe ini kutipan dari kata-katanya mbak Fanny lho), padahal dalam penilaianku, saat aku berjalan-jalan membaca puisi-puisi kocak peserta lomba itu banyak yang bikin aku ketawa-ketawa sendiri kecuali puisi kocakku (lho...?) karena aku memang menyadari dalam kehidupan sehari-hari aja susah bikin orang ketawa dari lawakankku kecuali anak-anakku (itu juga sesudah diancam dibujuk harus ketawa,  kalo tetep cembeluut,  nggak akan dikasi donat kesukaan mereka hihihi). Jadi, ternyata apa yang bisa bikin aku kayak orang GeJe karena ketawa-ketawa sendiri (berdua deng sama monitor), ternyata belum tentu bisa membuat para juri itu terangkat bibirnya walaupun cuma yang sebelah kanaaan aja, apalagi sampai terpingkal-pingkal.


 Mungkiiin, keberuntunganku kali inipun karena kebetulan aja tulisanku agak-agak sesuai seleranya juri, padahal bisa jadi diantara peserta lain yang baca kisahku itu berfikiran :"Masa' sih yang kayak begini bisa dapet peringkat tiga?" atau "Yaah cuma segini aja, kira'in bagus" hehehehehe.... bukannya su'udzan ya (berprasangka jelek kepada orang lain) ini hanya ber mungkin-mungkin aja karena memang aku mengalaminya juga.


Yang bisa aku ambil hikmahnya adalah ketika kita memiliki satu keterampilan berkarya dan sekaligus cita-cita besarnya akan hal tersebut, maka harus diiringi keprofesionalan dan keikhlasan (tanpa pamrih) sehingga bagaimanapun penghargaan orang atas karya kita, maka tetaplah kita sebagai pemenangnya karena kita sudah berintegritas atas usaha kita sendiri.


So...keep try and be professional...
Semoga apa yang kita usahakan disukai Allah, disukai juga hamba-hambaNYA, aamiin...

PS: Untuk mbak Anazkia dan Denaihati trimakasih banyak atas apresiasi dan hadiahnya, sangat berarti dalam hatiku (^;^)

Kamis, 10 Juni 2010

Terimakasihku.......

Bismillahirrahmaanirrahiim



Aku mulai tulisan ini dengan mengucap rasa syukurku kepada Rabb yang telah memberiku mau untuk menulis sesuatu yang kuharap akan menggugah lebih dalam lagi rasa syukurku. Menulis adalah salah satu kecintaan duniawiku, padanya aku menikmati memetik kata-kata merah ranum untuk kususun  menjadi secawan kalimat indah.
Jika kecintaanku itu telah melukiskan banyak gambaran kehidupan di sekelilingku, maka alangkah pantasnya jika kugoreskan pula hal yang sama tentang orang yang kusayangi.


Bertahun-tahun yang lalu, adalah harapan besarku untuk dapat memiliki rumah tangga dan keluarga yang baik. Baik dalam pandangan manusia, terlebih lagi baik dihadapan Tuhanku.
Selalu kumintakan disetiap do'a-do'aku, kiranya Allah memberiku pasangan hidup yang baik bagiku
Mencintaiku sebagai diriku apa adanya yang terlalu banyak kekurangan dan keterbatasannya.
Dan akupun meminta kepadaNYA agar aku dapat mencintainya sebagai dirinya apa adanya yang tentulah bukan manusia maksum yang sempurna tanpa cacat dan cela.
Aku memohon kepada Rabb-ku, cintaku bersih kepadanya karena Allah semata.


Ketika saat itu tiba....saat-saat dimana Allah mempertemukan kami dengan caraNYA yang tak terduga.
Tak seperti biasanya pertemuan insan lainnya.
Aku menerimanya dengan tanda tanya :"Adakah dia yang telah Allah pilihkan untukku, sebagai jawaban atas do'a-do'aku ?"
Seperti Allah telah menjawab pintaku dengan cara "misterius"NYA, maka akupun tahu, aku harus mencari jawabannya sesuai dengan jalan yang dikehendakiNYA.


Ku arungi kemudian hari-hariku didalam naungan orang yang kusebut suamiku.
Sebagai Al-faqir, berdua menjalani beratnya mengendalikan perahu kecil kami ditengah ombak kehidupan
Hingga Allah hadirkan bintang-bintang kecil yang mencahayai malam-malam kami
Sinarnya datang satu persatu menghibur dan  menghalau penat  jiwa kami


Sebelas tahun mendayungi perahu kecilku
Tak sekalipun aku melihatnya berhenti mengasihiku
Walau tak terucap dengan kata-kata  karena kesederhanaan cintanya
Namun denyutnya dapat kurasakan dalam nadi perasaanku


Suamiku dulu bukan siapa-siapaku dan mungkin tak pernah mengharapkanku
Namun sejak tanggung jawab ditegakkan, dia tulus menjagaku dan anak-anakku
Hari-harinya diberati beban besar untuk menanggung nafkah bagiku dan empat buah hatinya
Sebelum kehadiranku, rezeki yang didapatkannya dengan susah payah tentu dapat membahagiakan orangtua dan saudara-saudaranya
Namun kedatanganku sebagai istrinya tidak membuatnya merasa telah disempitkan rezekynya, walau dengan itu mungkin akan berkurang kemampuannya untuk membagi nafkahnya kepada orang tua yang dicintainya.
Sungguh semua itu adalah kehormatan bagiku dan tak berhenti syukurku menerima kebaikannya disaat banyak wanita dinista pasangan hidupnya.


Diamanahi empat anak bukanlah hal yang mudah bagi manusia lemah sepertiku
Namun suamiku selalu menemani bahkan disaat-saat tersulitku
Seluruh anak-anakku disambut kehadirannya di dunia ini dengan adzan dan iqamah yang dibisikkan suamiku di telinga mereka.
Agar nama Rabb lah yang pertama kali dikenal di pendengarannya.
Membersihkan kotoran dan mengganti popok mereka bukan hal yang tabu untuknya
Menolongku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumahpun  tak menjadi keberatannya
Memijit kakiku yang lelah seharian mengurus anak-anak tak membuatnya mengeluh
Dan setiap letihnya bekerja adalah murah harganya,ia tak meminta lebih selain dari secangkir teh hangat dan senyum anak-anakku.
Sungguh suatu kesyukuran besarku menerima karunia manis yang membahagiakan ini, disaat banyak keluarga ditinggalkan nakhodanya.


Sebelas tahun adalah waktu yang tak sedikit untuk hidup bersamaku dengan segala kefaqiranku
Namun ia masih bertahan disisiku
Ia bagai pakaian bagiku, menutupi segala aib dan hinaku
Ia bagai malaikat bagiku, selalu ingin membantu kesulitanku
Ia  teman hidupku yang pernah kuminta dahulu dalam setiap do'aku


Seandainya bisa, ingin ku menjadi seperti Ainun bagi Habibie
Seandainya bisa, ingin ku menjadi wanita sederhana yang penuh cinta bagi suaminya
Namun aku hanya manusia biasa yang selalu luput dan khilaf


Karenanya......
Terimakasih Aby...untuk tetap menjadi suamiku...
Maafkan , belum dapat menjadi istri seperti yang kau harapkan
Semoga Allah berkenan  menaburkan Fadhal dan RahmatNYA untuk kita
Aamiin.....

Senin, 07 Juni 2010

Di Ruang Tulisanku...

Bismillahirrahmanirahim

Kali ini bukan cerpen, bukan puisi bukan pula sebutan-sebutan lainnya. Tetapi sama saja artinya bagiku, buah fikiran dan perasaanku. Tulisanku...

Aku fikir, Allah telah memberi salah satu yang terhebat (setidaknya buatku). Apakah itu?, jawabnya kecanggihan teknologi informasi semacam internet ini. Dan kukira, semua orang berfikir begitu juga saat menyadari apa yang bisa dia buat dengan media ini. Banyak sekali, tak usahlah kusebutkan satu persatu.

Yang jelas, sejak aku mengenal dunia maya ini, tak sadar aku digiring oleh kegemaranku menulis kepada banyak kejutan-kejutan yang memukau. Banyak hal yang tersingkap dari rahasia kehidupan yang seharusnya bisa kujadikan ibrah dan membuatku harus lebih baik menjalani kehidupan ini.

Banyak teman adalah sesuatu hal yang tidak kupercayai dapat kutemukan disini pada awalnya. Di ruang tulisanku. Walaupun aku menyadari internet adalah media informasi dan komunikasi, dan kamar-kamar kreasinya  merupakan ruang publik, contohnya seperti blog-ku ini. Namun tetaplah aku merasa nyaman menuangkan segala inspirasi yang singgah di akalku ke dalam bahasa pena dan kalamku. Dan yang paling menyenangkan adalah aku merasa disayangi dan mendapatkan teman-teman baru disini.

Banyak hal mencengangkan bagiku (berlebihankah menurutmu kata ini ? menurutku ini yang sebenarnya) dari kegiatan menulisku di blog ini khususnya. Kutemukan banyak hikmah dari kisah hidup teman atau wataknya atau bahkan kisah cintanya yang bisa kuketahui melalui cara yang tidak terduga. Cara yang tak terduga namun tetap dalam bahasa tulisan, karena sebagian besar teman bloggerku adalah para penulis. Mulai dari penyampaian yang datar tentang kehidupan pribadinya seperti membahas aktivitas-aktivitas kecilnya disertai memajang foto-foto, ada pula yang menyampaikan dengan gaya penulisan yang cerdas tetapi sangat kocak hingga membuatku tertawa sendiri di depan monitorku, ada yang menumpahkan bahagianya karena sedang mengalami jatuh cinta, mengungkapkan kesyukuran hingga kisah pribadi yang menyakitkan dan mengharu biru perasaanku.



Aku pernah mengira....
Jika aku merasa telah kehilangan teman berbicara, teman terakhirku adalah tulisan.....
Namun disini....aku menemukan teman justru karena tulisan...dan demikian juga mereka...
Semoga bukan sekedar pekerjaan sia-sia
Bermain-main kalimat dan kata-kata
Berharap menjadi amal shalih yang bermakna
Menjadi bekal pulang ke asalnya


Tulisan telah menjadi tali persahabatan.....menyambung cinta dan kasih sayang
Dengannya silaturahmi dijalinkan.....semoga tetap demikian adanya Bahkan Allah tambahkan dan tambahkan kebaikan disana


Allahumma aamiin

Rabu, 02 Juni 2010

Bagai Ikan Dalam Samudra

Setiap lembar terbang daunMU
Setiap percik jatuh hujanMU
Setiap butir bergerak pasirMU
Tiada yang diluar KuasaMU

Setiap bisik suara makhlukMU
Setiap titik pandang hambaMU
Setiap desir rasa CiptaanMU
Tiada yang diluar JangkauanMU

Selalu menyertaiku
Selalu memelukku
Selalu bersamaku
Bagai ikan dalam samudra, KAU meliputiku


Tiada tabir perindu tuk bertemu
Tiada tempat pendosa tuk sembunyi
Tiada yang pantas tuk dicinta
Selain DIA, yang Allah asmaNYA

Selasa, 01 Juni 2010

Apa Yang Paling.......................di Dunia

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau mengajukan beberapa pertanyaan:
Imam Ghazali = Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali :" Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran:185)".


Imam Ghazali :" Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"
Murid 1 :Negeri Cina
Murid 2 :Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali :" Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama".


Iman Ghazali :" Apa yang paling besar di dunia ini?"
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : "Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka".


IMAM GHAZALI :" Apa yang paling berat di dunia?"
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : "Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah".


Imam Ghazali :" Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali :" Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat".


Imam Ghazali :" Apa yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-murid dengan serentak menjawab : 'Pedang !"
Imam Ghazali : "Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri".

Semoga bermanfaat...

Minggu, 30 Mei 2010

Ikhlas karena Cinta....

Tiada yang lebih melegakan dan membahagiakan kecuali ikhlas menyaksikan orang yang dicintai bahagia... Ketika sudah tersibak hakikat...semua terlihat sama saja...
Keberadaan diri sudah tak dirasa...
Semuanya hilang seperti ketidakpedulian....


Sifatnya ikhlas,  tak bisa menyakiti yang dicintai...
Tak kuat menyaksikan yang disayangi tersiksa...


Kalau masih punya cinta...
Yang tersisa hanya ikhlas...
Tidak ada kenapa Tuhan?....
Tidak ada seandainya....
Hanya senyum....dan sedikit air mata...,karena ternyata....diri ini masih al faqir ...

Jumat, 28 Mei 2010

Cincin itu....

Meinar menyimpan payungnya di dekat tangga, walau demikian pakaiannya tetap saja basah terkena air hujan. Ia berlari menyusuri lorong  kampusnya yang telah sepi, dicarinya sesorang yang telah menyimpan pesan pendek di hand phone-nya satu jam yang lalu. Isi pesan itu terbaca di layar ponselnya :

"Mei, aku tak kuat lagi, I'm sorry for I've done to you."

Meinar mencari-cari ke setiap sudut ruang kampusnya, beberapa ruang masih dipenuhi oleh mahasiswa lain  yang  mengikuti kuliah kelas karyawan. Sedang hari semakin gelap, lampu-lampu ruangan dan taman kampus sudah dinyalakan, tapi Mei tetap belum berhasil menemukan orang yang dicarinya.Entah mengapa ia sendiri tak mengerti mengapa ia mencari sang pengirim pesan ke kampusnya, bukan ke tempat kostnya atau tempat lainnya. Ia hanya menuruti intuisinya saja tak ada yang lain.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari ruang auditorium yang biasanya sudah terkunci jika malam hari. Meinar termagnet untuk segera mencari tahu apa yang terjadi disana. Dilihatnya orang-orang berkerumun mengelilingi sesuatu, Meinar mendekat dan ia terbelalak, terkejut tak terkatakan, dilihatnya Ratih tergeletak di lantai auditorium di dekat mimbar, matanya tertutup daannn.... tak ada detak jantungnya terdengar atau denyut nadi yang terasa. Meinar cemas, sangat cemas...dilihatnya jejak air mata di pipi sahabatnya itu masih menggenang dan sebuah inhaller tergeletak di samping tangan kanannya, obat yang selalu Ratih gunakan jika asmanya kambuh.


Meinar meneteskan air matanya, ia teringat betapa Ratih amat menyesal telah membuat suatu berita  besar tentang dirinya yang pernah dinodai ayah tirinya di masa yang lalu. Berita itu disebarkan Ratih karena cemburu kepadanya atas hubungannya dengan Bara. Berita yang telah mempermalukannya membuat hubungannya dengan Bara kini retak.


Namun Ratih telah menyesal, dan perbuatannya telah membuat dirinya depresi dan semakin sering kambuh penyakitnya. Entah apa yang dilakukan Ratih di ruang auditorium saat itu Meinar hanya terpaku, menatap cincin yang dikenakan Ratih terukir nama kekasihnya 'Bara'

Kamis, 27 Mei 2010

Jebakan Tingkat Tinggi

Bismillahirrahmaanirrahiim



Sebuah tulisan Untuk Mengingatkan Diri Sendiri

Banyak sekali pelajaran di sekeliling kita yang bisa kita petik hikmahnya.

Mungkin sering kita mendengar

Anak harus mendengar dan taat kepada orangtuanya......KARENA ITU KEHARUSAN
Istri harus mendengar dan taat kepada suaminya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Bawahan harus mendengar dan taat kepada atasannya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Rakyat harus mendengar dan taat kepada pemimpinnya..........KAREN
A ITU KEHARUSAN
Murid harus mendengar dan taat kepada gurunya............KARENA ITU KEHARUSAN
Budak harus mendengar dan taat kepada majikannya..........KARENA ITU KEHARUSAN
Yunior harus mendengar dan taat kepada seniornya.........KARENA ITU KEHARUSAN
Ummat harus mendengar dan taat kepada ulamanya.........KARENA ITU KEHARUSAN


Selama yang didengar dan ditaati itu perihal kebenaran, maka tak ada yang harus diperso'alkan, just do it, kerjakan saja tanpa syarat.


Akan tetapi, apakah hal itu akan berlaku juga apabila perihal kebenaran itu disampaikan secara terbalik ? Jawabannya adalah BELUM TENTU


Mungkin kita sering mendengar
Orang tua tersinggung jika diingatkan oleh anaknya
Suami tersinggung jika diingatkan oleh istrinya
Atasan tersinggung jika diingatkan oleh bawahannya
Guru tersinggung jika diingatkan oleh muridnya
Majikan tersinggung jika diingatkan oleh budaknya
Senior tersinggung jika diingatkan oleh yuniornya
Ulama tersinggung jika diingatkan oleh ummatnya


Bahkan jika yang diingatkan itu adalah kebenaran. Seakan-akan kebenaran itu seperti air, yang harus mengalir dari atas ke bawah. Bahwa pemilik sah ilmu itu hanya milik para Senior.
Terlebih lagi, jika yang mengingatkan itu melakukannya dengan cara yang tidak baik.


Tidak semuanya memang dan tidak selalu.
Jika IKHLAS telah dimiliki......tak sulit untuk menerima sebuah ingatan. Tak berat untuk menerima sebuah kritikan.



Hanya jiwa yang besar yang dapat menampung segala "masukkan" demi kebaikannya sendiri.
Memandang setiap teguran, yang sumbernya datang dari mana saja, baik dari atas maupun dari bawah, dari yang miskin maupun yang kaya, dari yang tua maupun dari yang muda, dari yang berpengalaman maupun yang sedikit pengalaman....
Semuanya sebagai kasih sayang Tuhan, Rabb yang menciptakan kita semua sama-sama anak cucu Nabi Adam as dan Siti Hawwa radiyAllaha-anHa


Sedangkan hakikatnya...
Tak ada orang yang Pandai itu...kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Kaya itu....kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang Terhormat itu......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Tak ada orang yang berilmu itu.......kecuali karena Allah telah meminjamkannya
Bahkan tak ada orang yang hidup itu......kecuali karena Allah telah meminjamkan KehidupanNYA
Dan akan DIA cabut semua itu kembali pada saatnya.


Jadi bagaimana bisa kita berbuat sombong di bumi milikNYA ini, sedang tak ada yang kita punya melainkan semuanya hanya PINJAMAN SANG PENCIPTA...


Beruntunglah orang yang selalu menangisi aibnya diri dan berusaha untuk selalu memperbaikinya
Mengendalikan sekuatnya hawa nafsunya agar dapat pulang kembali dengan selamat, bertemu dengan DirinNYA, yang Allah asmaNYA.


Wallahu a'lam

Selasa, 25 Mei 2010

Ikhlas.....

Dunia menjadi sebuah tempat yang ambigu bagi manusia bergantung pada keadaannya.


Katanya....
Hampir punah kebaikan-kebaikan di akhir zaman ini
Tersiar kabar berita bahwa terjadi banyak kehancuran nilai kebaikan
Orang telah tak perduli sesamanya bahkan walaupun terdapat ikatan saudara, sedarah maupun seagama
Orang kini dengan mudahnya merusak dan merampas harta orang lain asalkan dilakukan beramai-ramai
Orang kini dengan mudahnya menyakiti dan menyiksa asalkan terlampiaskan benci dan angkaranya
Orang kini dengan mudahnya membunuh dan menganiaya asalkan terpenuhi cita-citanya


Sulit menemukan senyuman dikeseharian
Sulit mendengar kata-kata yang santun di pergaulan
Sulit mendapat pertolongan saat kesusahan
Sulit tidak dighibahkan orang
Sulit mendapatkan iba dan kasih sayang
Sulit menerima ketentuan Allah yang Menciptakan


Jika tak seagama tak boleh ada cinta
Jika tak senegara tak boleh ada kerukunan
Jika tak sebangsa tak boleh ada kesetiaan
Jika tak sedarah sekelahiran tak boleh ada kasih sayang


Aduhai...
Dimanakah kini keberkahan ?
Tiadakah kini Keikhlasan...?



Katanya...
Shalat itu mudah ditegakkan kepada Rabb yang Menciptakan, asal ada keikhlasan
Tersenyum itu mudah dihadiahkan kepada siapa yang kita kenal, asal ada keikhlasan
Sedekah itu mudah diberikan kepada siapa yang memerlukan, asal ada keikhlasan
Berkata-kata baik itu mudah diucapkan kepada saudara,sahabat dan teman, asal ada keikhlasan
Berbaring mensyukuri  penyakit dari Tuhan itu mudah dilakukan, asal ada keikhlasan
Berperang melawan kebhatilan baik bathilnya hawa nafsu maupun musuh yang menyengsarakan itu mudah dilaksanakan, asal ada keikhlasan
Kesemuanya itulah makna membaca dan mengamalkan Al-qur,an, akan mudah diwujudkan, jika ada keikhlasan.



Ya Rabb...
Jadikanlah kami hamba-hambaMU yang ikhlas, yaitu tiada yang lain memenuhi hati kami selain DIRIMU...
Yang karenanya tiada kami bekerja dan bergaul sehari-hari melainkan karena untuk mensucikanMU
Yang karenanya tiada kami diam ataupun berkata-kata melainkan karena untuk meninggikanMU
Yang karenanya tiada yang kami lakukan melainkan yang menjadi keridha'anMU
Yang karenanya tiada yang kami cita-citakan hanya pertemuan denganMU



Ikhlas...
Kata itu mudah diucapkan tetapi berat untuk dibuktikan
Semoga Allah pun berkenan, agar kami dapat menjadi pemiliknya
Allahumma Aamiin

Minggu, 23 Mei 2010

Fiksi mini di hari Minggu

Gadis itu menyembunyikan tetesan air di matanya dengan kibasan jemari di pipinya.
Mencoba tak mengajak air matanya untuk turut merasakan gundahnya.

Namun ia tak berhasil, air mata itu terus meluap mencari kepuasan di keelokan dagunya
Gadis itu bangkit menutup jendela yang dihempas angin timur
Lautan sedang bergelora kini, namun tak sehebat gejolak dihatinya.

Dari kejauhan nampak bayangan yang ia kenal
Bayangan itu seolah mengawasinya
Bahkan ia melambaikan tangan ke arahnya
Bayangan seseorang yang kemarin ia hadiri pemakamannya

Sabtu, 22 Mei 2010

Pembuat gelap tak sadar membuat gelap....

Bismillahirrahmaanirrahiim


Rabby.....
Inilah bumiku....bumi tempat tinggalku....bumi tempat KAU hidupkan aku....
Bumi yang semakin pesat kemajuan peradaban masyarakatnya tetapi semakin terpuruk kedalam jurang kehancurannya.
Bagaimana tidak...telah KAU izinkan kami memiliki dan menikmati kemajuan abad ini namun kami campakkan ni'matMU dengan kesombongan kami.

Menangis cacing-cacing dalam tanah
Merintih burung-burung yang selalu bertasbih
Melihat perbuatan ummat manusia zaman ini yang semakin bergelimang dengan segala kealpaannya terhadap Rabbnya. Seluruh waktunya dihabiskan untuk melampiaskan hawa nafsunya kecuali sedikit (saja yang ditinggalkan untuk berbuat kebajikan).


Bagaimana orang-orang semakin berani menyakiti orang tuanya atas nama apapun bahkan atas nama agama
Bagaimana orang-orang semakin berani menyiksa dan melukai anak-anak darah dagingnya ataupun darah daging orang lain yang seharusnya dijaga dan dilindungi
Bagaimana orang-orang semakin berani melepas seluruh pakaiannya dihadapan yang bukan mahramnya
Bagaimana orang-orang semakin berani memuaskan syahwatnya pada tempat-tempat yang dibenci Tuhannya
Bagaimana orang-orang semakin berani menghina dan merendahkan martabat manusia lainnya
Bagaimana orang-orang semakin berani saling berperang tanpa hak
Bagaimana orang-orang semakin berani mengambil paksa milik manusia lainnya yang bukan hasil jerih payahnya.
Bagaimana orang-orang semakin berani menuduh dan mendakwa orang lain berada di atas kesalahan sedang dirinya berada di atas kebenaran atas nama ideologi ataupun  agama
Bagaimana orang-orang semakin berani menjadikan nafsu sebagai tuhannya.

Tercenung aku dihadapan perkataan Guruku:


Pembuat gelap yang sama sekali tidak menyadari membuat gelap
Yang diyakini malah telah berbuat padang dan terang benderang
Yang diyakini telah berjalan di tempat yang benar dan diridhai Tuhan
Karena itu maka dibela habis-habisan
Padahal gelap yang dibuatnya itu telah nyata menggelapkan jagadnya sendiri dan juga jagadnya manusia dalam hidup dan kehidupannya

Berada di tempat gelap tetapi sama sekali tidak merasa berada di tempat yang gelap
Hidup dengan nafsu yang sungguh gelap dan watak akunya yang gelapnya menghebat
Lalu iblis dan tentaranya yang madangi (menerangi) dengan api
Api itu telah benar-benar membakar habis kebenaran

Maka cerdik pandainya, cerdik pandainya gelap dengan api
Pakarnya, pakar gelap dengan api
Kekuasaannya, kekuasaan gelap dengan api
Ngaturnya, mengatur gelap dengan api
Sistemnya, sistem gelap dengan api
Tujuannya gelap dengan api
Yang diperoleh gelap dengan api di tempat sesat


Seakan-akan bumi ini telah semakin lemah akan "beban yang semakin berat".
Kerusakan yang dibuat umat manusia dengan "tangannya" akibat mempertuhan hawa nafsunya telah mengundang bencana dimana-mana.
Bencana kapan saja dan dimana saja. Kerusakan alam dan wabah penyakit, banjir dan kebakaran, gempa bumi, angin taufan hingga Tsunami. Telah tak memilih korbannya laki-laki atau wanita, miskin ataupun kaya, anak-anak atau dewasa. Semua dilibasnya atas izin Tuhannya.

Rabby...
Seakan-akan mereka ingin mengabarkan...
Bahwa Engkau telah dipersekutukan
Engkau telah tak diperdulikan
Sedang DzatMU sangatlah Dekat
Yang senantiasa menyertai dan meliputi setiap yang ada
Yang Al-Ghaib tetapi mutlak keberadaanNYA
Yang amat menginginkan dikenali oleh hamba-hambaNYA
Oleh sebab itu Engkau telah mengutus para Rasul dan wakilnya
Agar menjadi pelita bagi semua hamba
Yang menginginkan keselamatan
Yang merindukan pertemuan
Dengan kekasih tumpuan Harapan
Allah sang Maha Rahman

Semoga Allah menjadikan kami hamba-hamba yang senantiasa ditunjuki dengan hidayahNYA
Allahumma  aamiin

Kamis, 20 Mei 2010

Tenggelam

Dia menutup kelopak matanya dan menggumam :"hmm.." Seketika!  ia tenggelam dalam rahasia yang selalu ia intai di kedalaman dzikirnya.


Ahaa...pengalaman baru. Membuat fiksi mini ternyata mengasyikkan juga. Lagi seneng ikutan lomba niih.
Untuk Kontes Fiksi Mini yang diselenggarakan oleh wi3nda yang punya blog  -wi3nd- juga yang baca postingan ini boleh ikutan juga tuh :)



Semoga menambah ilmu, menambah pengalaman, dan yang pasti menambah amal baik. Aamiin

Bogor 21 Mei 2010

Rabu, 19 Mei 2010

Gerobak Untuk anak-anakku

Sebuah nostalgia dan pernah saya posting beberapa waktu yang lalu. Untuk keperluan Kontes Blog "Berbagi Kisah Sejati" maka saya posting ulang kembali. Dan atas perkenan Mbak Anazkia sang penyelenggara dan sponsor yang telah sepenuh hati mendukung hal ini yaitu Denaihati, saya haturkan terimakasih atas kesempatan ini.Semoga kisah berdasar pengalaman pribadi saya ini tidak mengecewakan. Alhamdulillah

Inilah kisahnya:


Sejak kepindahan keluarga kami dari kota Bandung, sudah sekitar dua tahun lebih tidak melihatnya. Entah mengapa, sekarang aku teringat lagi kepada mereka.

 Seorang Bapak pemulung yang setiap hari memutari perumahan tempat kami tinggal untuk memungut apa saja barang-barang dari tempat sampah warga perumahan yang bisa ia jual kembali. Barang-barang bekas dari plastik atau kardus yang telah menjadi sampah itu diletakkannya di dalam gerobaknya yang ia tarik setiap hari kemanapun ia pergi.

Di dalam gerobak penuh barang-barang bekas itu duduk anak laki-lakinya yang berusia sekitar 2 tahun (pada saat itu) 'anteng' bermain-main dengan mobil-mobilan yang didapat ayahnya dari tempat mana lagi selain tempat sampah orang.

 Dibelakang gerobak yang ditarik sang bapak, berjalan istrinya dengan menggendong seorang bayi perempuan. Berjalan mengikuti kemana saja suaminya pergi,sambil sesekali ia pungut juga sesuatu yang belum terambil oleh suaminya.

 Demikian setiap hari, keluarga kecil itu beriringan berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain, "menyulap" sampah orang untuk dijadikan sebungkus nasi untuk keluarganya.

Suatu pemandangan yang menyentuh hati, menyaksikan ketabahan mereka.


Jika aku sedang merawat tanamanku, atau menyapu halaman, kulihat dari sudut mataku, sang bapak berdiri diam di pintu pagar rumahku. Tidak mengatakan atau meminta sesuatu apapun kecuali menyapaku dengan kata-kata yang kadang-kadang sulit kumengerti karena baru tersadari bapak pemulung ini ternyata kurang fasih dalam berbicara sehingga terkesan seperti sedang bergumam tapi aku tahu pasti dia berbicara dalam bahasa Indonesia.

Jika sudah demikian, aku hanya tersenyum dan mengangguk saja. Awalnya ada rasa 'takut', tetapi setelah melihat anak-anak dan istrinya, rasa itu berganti menjadi iba. Jika ditawarkan sesuatu, makanan atau barang, maka nampak mimik senang di wajahnya.


Semakin lama aku dan keluarga mereka semakin "akrab". Keakraban yang hanya bisa difahami oleh masing-masing hati kami, karena tidak pernah ada obrolan panjang diantara kami. Istrinyapun bahkan tidak pernah bicara, hanya mengggendong bayinya dan memperhatikan si sulung di dalam gerobaknya.


Jika telah selesai "urusan"nya di rumahku, maka mereka akan segera melanjutkan perjalanannya ke gang-gang lain, dari satu pintu pagar ke pintu pagar yang lain, mengais-ngais sampah di halaman orang.


Saat mereka menjauh, dari belakang sering kuperhatikan keluarga itu. Betapa hebatnya 'perumpamaan' yang Allah berikan melalui figur mereka. Seluruh "dunia"  mereka hanya sepenuh gerobak yang ditarik sang pemulung. Tak punya walau segubuk kumuh untuk tempat berteduh, tak ada janji makanan apa yang bisa ditemukan hari ini untuk istri dan anak-anak balitanya, tak ada ganti untuk pakaian kotor dan kumal. Betapa menakjubkannya Allah Tuhanku, dimana mereka berteduh jika datang hujan lebat?  kemana mereka pergi mendapatkan makan dan minuman? apakah berhasil menemukan nasi, yang cukup untuk empat orang? bagaimana dalam keadaan seperti itu, anak-anak mereka nampak gemuk dan sehat walau terlihat kotor dan lusuh?.

Sulit kubayangkan jika kucoba membandingkan dengan keadaanku, saat istri pemulung itu hamil lalu melahirkan. Dimana bersalinnya dan siapa yang menolongnya?  Apakah mereka mendapatkan barang sedikit popok atau kain untuk bayinya?. Bagaimana jika salah satu atau kedua anak mereka sakit atau demam ? Apakah mereka tahu dan bisa membeli obat penurun panas untuk meredakan sakit anaknya? apakah mereka memiliki selimut untuk menghangatkan tubuh buah hatinya?


Maha Suci Allah yang Maha Agung
Jika DIA memberikan rezekyNYA kepada cacing-cacing tak bermata dalam tanah, atau belatung-belatung lemah dalam makanan busuk, atau dia berikan rezekyNYA kepada Kecoa, Kelabang, Tikus di got-got. Maka tentu telah DIA sediakan pula rezekiNYA yang Maha Luas bagi keluarga ini.Karena sesunguhnya DIA lah Sang Maha Pemelihara.

Kini aku telah tinggal di tempat yang jauh dari mereka. Tidak kusaksikan lagi salah satu ayat Tuhan itu. Tidak pernah kudengar lagi berita tentang mereka.

Kecuali pada suatu hari, alangkah gembiranya aku ketika mudik ke rumah orang tuaku  dimana tidak jauh dari rumahku dulu. Allah pertemukan kembali aku dengan mereka. Tidak berbeda dengan masa yang lalu, sang Ayah menarik tali gerobaknya yang tersangkut di pundak dan tangan di tiang gerobaknya. Hanya saja kala itu yang berada dalam gerobak bukan hanya Sang Kakak yang telah tumbuh besar, tetapi juga sang adik perempuan yang  telah berusia kira-kira dua tahun.

Tetapi ada yang kurang....Dimana sang Ibu?
Saat kutanyakan kepada bapak pemulung itu, dengan wajah murung ia mengabarkan bahwa ibu anak-anak telah pergi entah kemana. Meninggalkan suami dan anak-anaknya yang masih teramat kecil. Pergi karena tak kuat menahan penderitaan kehidupan mereka. Tanpa kabar,tanpa berita.

Aku menatap anak-anak itu di dalam gerobak sang pemulung, sedang asyik bercengkrama. Tidak tahu kemana ibu mereka pergi. Hanya kepada Ayah tempat mereka bergantung kini.

Kubayangkan anak-anakku sendiri. Rahma satu tahunku. Bagaimana keadaannya jika tiba-tiba kutinggalkan pergi dan tak kembali. Sedang sehari-hari 24 jam dia bersamaku, menikmati hari-harinya bersama orang yang bisa dipanggilnya ibu. Bagaimana dengan mereka? anak-anak yang sebaya dengan anak-anakku? anak-anak kita semua?  Mereka balita, sangat polos dan lugu.

Tetapi pertanyaan itu tak pernah terjawab, seiring berlalunya sang pemulung. Membawa jauh seluruh "dunia"nya, barang-barang rongsokan dan kedua buah hatinya.


Semoga Allah selalu Melindungi mereka, Menyelimuti mereka dengan Kasih dan SayangNYA, Membekalkan Ilmu ,  mengaruniakan kesehatan dan kesejahteraan, serta menghadiahkan Keselamatan.
Allahumma ya Rabby,Aamiin.

-------------------------------------------------------------------------
Catatan : Terakhir menurut cerita tetangga lamaku yang masih tinggal di Bandung, sekarang sang Ayah kembali menarik gerobaknya tanpa kedua anaknya, entah apa yang terjadi...wallahu a'lam

Selasa, 18 Mei 2010

Munajatku

Bismillahirrahmaanirrahiim
Ya Rabb...

Ketika asaku mulai terangkat naik, menjangkau impian lama agar ku dapat berdiri tegak
Masih saja ada aral yang menahan laju kakiku ini hingga kembali asaku harus terjerembab lagi
Sedang kejaran waktu semakin menyesak dadaku tiada tempat menerimaku dapat berdikari
Ingin melepas semua belenggu itu namun selalu ada akar yang melilitku


Tiada yang kuinginkan melainkan agar dapat membuat banyak kebaikan
Untuk dapat turut menegakkan cita-citanya Wasithah
Aku meyakini jalanku dari Rabbku sesungguhnya terbentang lebar
Namun belum kutemukan dimanakah tempatnya


Jika DIA melapangkan makhluk-makhluk lemah tak berakal dan orang-orang ingkar
Tentulah DIA tak akan kikir kepadaku menahan sepercik dari isi "LumbungNYA"
DIA Al Ghaniyu, DIA-lah Ar Rozzaq, DIA tak membutuhkan dan tak meminta makan minum kepada ku
Melainkan akulah yang lemah dan sangat MembutuhkanNYA


YA Rabb yang Maha Dekat dan Yang Mengabulkan segala pinta
Mudahkanlah untukku perkaraku
Jadikanlah mudah apa yang kini nampak sulit bagiku
Jadikanlah ringan apa yang kini nampak berat bagiku
Sibukkanlah aku denganMU Rabbku...
Hanya denganMU

Sabtu, 15 Mei 2010

"Beragama" Bukan untuk Menilai Orang Lain Tetapi Untuk Mengadili Diri Sendiri......

Bismillahirrahmaanirrahiim


Alhamdulillah, malam ini Allah izinkan saya menulis lagi. .Ditemani hujan yang suaranya mendamaikan hati membuat saya sangat menikmati malam ini. Hmmm, seruput teh hangat dulu....ahh Alhamdulillaah...


Baru saja saya membaca catatan teman di situs jejaring sosial. Dan ini entah yang keberapa kali saya membaca catatannya di antara banyak sekali catatannya. Setiap membaca tulisan-tulisannya, saya sering tercenung. Dia seorang diantara beberapa orang yang menunjukkan "gelora keimanan" yang sangat kuat, seorang yang sangat bersemangat dengan "da'wahnya". Pengetahuannya atas "ilmu-ilmu agama" sangat mengagumkan teman-temannya yang jumlahnya beribu-ribu di situs tersebut (nampak dari komentar-komentar dan salut yang mengikuti catatannya itu). Sehingga seolah-olah dia itu seorang  fuqaha yang bertugas mengeluarkan fatwa. Walaupun ada juga sebagian yang rajin mengoreksi sikapnya yang sering dengan mudah memvonis orang lain sesama umat dengan sebutan fasik/dzalim/kafir karena hal-hal yang sebetulnya menurut saya banyak menyangkut hal furu'iyyah ataupun khilafiyah. Perbedaan pendapat sepertinya menjadi terlarang (nampak dari kerasnya tanggapan thp komentator yang berbeda pandangan). Barang siapa yang berbeda dengan sikapnya maka harus bersiap menerima "penilaiannya" karena dianggap telah melecehkan aqidah..


Merenungi semua itu....saya hanya bisa mengembalikan kepada Allah Sendiri sang Pemilik Kebenaran yang hakiki. Saya juga tidak ingin menyebut apa-apa atas teman saya itu karena saya tidak memiliki kapasitas dan kompetensi apa-apa apalagi Hak untuk itu. Tetapi saya juga manusia yang memiliki akal budi dan hati nurani, yang dengan semua "pembacaan" itu juga memiliki pendapat pribadi yang tidak perlu saya urai disini untuk menilai dirinya.


Saya hanya ingin berlindung kepada Allah Azza wa Jalla untuk menetapkan saya di dalam DiinNYA, di dalam Kebenaran MilikNYA, di dalam "Pelukan" DiriNYA atas segala di luar DiinNYA,diluar KebenaranNYA, diluar "PelukanNYA".


Saya manusia lemah yang tidak lepas dari penilaian dan anggapan orang lain tetapi biarlah Allah saja yang Menilai dan Menyaksikan, yang karenanya saya amat berharap saya berada di dalam BimbinganNYA sepenuhnya.


Allah, DIA lah Sang Maha Guru, yang akan menunjukkan saya kepada kebenaran yang hakiki melalui UtusanNYA yang Hak dan Sah di dunia ini karena Allah tidak mengejawantah/memperlihatkan Diri di dunia fana ini oleh sebab itu DIA mengutus RasulNYA dan WakilNYA untuk membimbing manusia kepada jalan keselamatan. Jalan yang dapat menghantarkan mereka agar dapat sampai bertemu kembali denganNYA.


Saya memohon kepadaNYA "beragama" yang dapat menunjukkan kepada saya dosa-dosa dan khilaf saya pribadi. Agar saya dapat cepat bertaubat dalam kesalahan-kesalahan saya. Agar saya dapat memperbaiki diri dalam kekurangan-kekurangan saya.Bukan "beragama" yang kemudian membuat saya pandai menilai orang lain kurang aqidahnya, pandai menunjuk orang  ini fasik orang itu dzalim orang itu kafir,sedangkan  itu semua adalah Hak Allah dan RasulNYA.


Berikan kepada saya seorang Guru yang dapat memahamkan kepada saya betapa lemahnya diri, sehingga tak ada sedikitpun yang dapat disombongkan. Bahwa diri ini dan segenap semesta ciptaanNYA bagaikan daun salam yang terombang-ambing di tengah lautan, bergerak bukan atas kehendak dan tindakannya, melainkan semata-mata hanya karena Allah yang membuatnya demikian.Memahamkan bahwa manusia ini jangankan dapat berfikir dan berkarya, bahkan bernafaspun tidak bisa kalau tidak bersama Allah.


 Saya mohonkan keharibaanNYA bahwa atas perkenanNYA saya dapat merasakan KehadiranNYA yang amat dekaat, senantiasa menyertai dan meliputi saya dimanapun dan kapanpun. Merasakan indahnya dapat selalu mengingat-ingat DiriNYA. Apalagi disaat-saat kematian mendekat, kiranya DIA sendirilah yang menjemput dan memeluk sehingga saat-saat itu merupakan saat-saat terindah bagi diri ini, dapat bertemu yang dirindukan selama ini.


 Saya berlindung kepada Allah dari segala ketakutan yang dialami segala  manusia. Ketakutan atas apapun dari dunia ini selainNYA. Takut lapar, takut miskin, takut sakit, takut gelap, takut sendirian, takut dibenci orang, takut tua, bahkan takut kematian yang pasti akan datang.


Biarlah segala kecamuk di luar diri ini bergelora seperti yang dikehendakiNYA di dalam taqdirNYA, namun kiranya Allah berkenan membiarkan saya tenggelam dalam kebahagiaan bersamaNYA, selalu...sampai saat-saat pertemuan itu tiba.



Waktu semakin beranjak naik, Hujan diluar telah berhenti, jam di monitorku menunjukkan angka 01.15.
Segala puji bagi Allah yang senantiasa menyertaiku dan anda semua sampai detik ini.
Semoga kita semua dapat menjadi hamba-hambaNYA  yang pandai bersyukur. Allahumma Aamiin...

Senin, 10 Mei 2010

Negeri di Ujung Pelangi

Ada suatu negeri...
Siangnya teduh...Malamnya bercahaya...
Penduduknya santun, keadaannya bersahaja...

Tak ada kebencian disana
Hanya damai dan gelak tawa...

Bunga-bunganya wangi semerbak
Jika disentuh memancarkan sinar dan warna
Burung dan ikan dapat berbicara
Angin dan hujannya mengalun-alunkan  nada

Duhai tentramnya...

Di negeri itu senyuman bertebar dimana-mana
Setiap hari adalah hari raya
Sapa dan salam  selalu ditaburkan
Kepada siapa saja menjadi sahabat dan saudara


Semua insan nampak belia
Menabur sayang memercikkan cinta...
Indahnya pemandangan di mimpi
Tentang negeri di ujung pelangi

Minggu, 09 Mei 2010

Mendengar Tapi Tak Bisa Mengenal Suara




Membaca sebuah artikel hari ini dari detikHealth tentang sesuatu yang baru saya dengar, tetapi membangkitkan ingatan lama saya tentang sesuatu. Artikel itu berjudul sama dengan judul postingan saya (karena memang saya mengutipnya, ^_*). Isi artikel itu diantaranya adalah sebagai berikut :


* Manusia dikaruniai kemampuan untuk membedakan suara tiap orang. Dengan kemampuannya itu, suara anak, suara ibu, suara suami, suara teman mampu diidentifikasi dan dibedakan. Ketika ada suara orang bicara bukan di depannya, manusia mampu menebak suara siapa itu.

Tapi bagaimana jadinya jika sepanjang hidup, seseorang tidak pernah bisa membedakan suara, termasuk suara anggota keluarganya yang sehari-hari di dengar.

Kasus itu dialami wanita pengusaha asal Inggris yang sejak kecil tak mampu mengidentifikasi suara orang. Perempuan berinisial KH yang berusia 62 tahun itu tidak tuli. Dia mampu mendengar suara tapi di otaknya semua suara adalah sama sehingga tidak bisa mengenali ciri suara masing-masing orang.

Ketidakmampuan mengenali suara itu dalam dunia medis dikenal dengan istilah phonagnosia. Kasus ini pertama kali diteliti oleh ilmuwan University College London (UCL) yang telah diterbitkan dalam jurnal Neuropsychologia tahun 2008.

KH juga mampu menikmati musik tapi tidak pernah tahu siapa yang bernyanyi. KH bahkan tidak pernah bisa mengenali suara anaknya, sampai dia harus berhadapan dengan si anak kalau itu yang bicara adalah putrinya.

Hal yang paling menakutkan baginya adalah ketika menerima telepon. Sampai-sampai dia harus membat jadwal khusus siapa saja yang akan menelpon pada jam tertentu.

Scan otak yang dilakukan terhadap KH mengungkapkan bahwa bagian otak sebelah kanan yang dikenal sebagai daerah temporal suara ternyata bekerja kurang aktif, sementara aktivitas otak bagian kiri normal.

Penemuan ini menunjukkan bahwa dalam otak manusia, sisi kanan lebih penting dalam pengenalan suara sementara kiri digunakan untuk memahami kata-kata.

Sejauh ini Phonagnosia diketahui karena adanya gangguan lesi otak di belahan kanan setelah stroke atau kerusakan otak. Namuan dalam kasus KH, scan menunjukkan tidak ada bukti kerusakan otak di daerah yang terkait dengan suara atau persepsi pendengaran dan kemampuan pendengarannya ditemukan normal.

Menurut Profesor Belin Pascal, ilmuwan syaraf kognitif di Universitas Glasgow, mengidentifikasi suara adalah hal penting bagi seseorang terutama ketika ditelepon.

"Kita bisa menebak siapa orang di telepon tapi orang dengan phonagnosia tidak mampu melakukan ini," katanya seperti dilansir dari telegraph.

Otak manusia juga mampu mengenali suara berdasarkan ciri dari orang tersebut seperti suara serak, kasar, cempreng, merdu atau yang lainnya.



Subhanallah...
Sebuah pelajaran untuk saya. Bagaimana jika ternyata kejadian atau kelainan serupa telah terjadi pula kepada saya khususnya dan mungkin juga pada kebanyakan kita selama ini.


Setiap hari pada peristiwa-peristiwa  yang terjadi dalam kehidupan kita, kita selalu mendengar suara-suara seperti suara anak menangis , suara pengemis menghiba, suara suami menasehati, suara istri mengungkapkan isi hati, suara orang tua mengungkapkan kerinduannya, suara kucing mengeong meminta makan, suara daun-daun di pepohonan berdesir saat ditiup angin sepoi, suara ombak menghempas karang hingga suara tsunami yang mengguncang, suara adzan berkumandang, suara orang berdzikir seperti suara lebah, suara hujan gerimis hingga curahnya menderas, suara petir dan guntur menggelegar, suara gemuruh gempa dan gunung meletus, suara presenter di televisi, suara orang sedang bernyanyi, suara tangis orang yang ditinggal wafat keluarganya dan ribuan suara lainnya di dunia ini.
Kita mendengarnya setiap hari, dan hampir tak memperdulikannya lagi karena telah terbiasa memilikinya.


Pada kenyataannya ternyata, kita punya telinga....Namun tak bisa mengenali hakikatnya "suara siapakah" semua itu sebenarnya...
Karena bahkan pendengaran bathin kita pun telah terhijab oleh semua yang bisa terlihat oleh mata lahir ini. Kita mengira sudah berakhir segala yang terdengar ini hanya sampai disitu saja. Sehingga jika yang kita dengar itu "enak" maka kita habis-habisan menyimaknya, menikmatinya. Dan jika yang kita dengar itu "tidak enak" maka kita pun mati-matian menjauhinya, menutup telinga tak ingin menangkap suaranya.


Semua suara-suara yang kita dengar oleh pendengaran kita yang sangat lemah ini hakikatnya adalah "Suaranya Tuhan". Suara yang yang mengiringi kita dalam perjalanan kehidupan ini. Kita tak pernah mengira sesungguhnya semua suara itu adalah "SuaraNYA" yang memberi kabar kepada kita tentang keberadaanNYA. Bahwa DIA itu ada, hadir dan senantiasa menyertai dan meliputi kita. "SuaraNYA" membimbing kita seperti mercusuar yang membimbing kapal-kapal di lautan di perjalanan malam tak berbintang. "SuaraNYA"  menuntun kita seperti menara pengawas di Bandara menuntun pesawat-pesawat yang akan lepas landas atau mendarat. "SuaraNYa menyinari" langkah kita agar dapat pulang kembali kepadaNYA dengan selamat sehingga sampai.

Sayang seribu sayang...
Jika mempunyai telinga tapi tak bisa mendengar
Tetapi lebih menyesal
Jika bisa mendengar tetapi tak bisa mengenal
Maha Besar Allah yang Maha Mendengar segala "suara" hamba-hambaNYA