This foto belong to AFSP Central Florida

Sabtu, 03 April 2010

Yang Pemurah



Pada suatu masa di suatu tempat di Persia, hidup dua orang pemuda yang bersahabat. Keduanya sama bekerja sebagai pedagang disebuah pasar. Seorang berjualan kain bernama Salman sedang yang lain berjualan tepung gandum bernama Rustam.Keduanya tinggal di daerah yang sama hanya berbeda apartemen.Disamping mereka, ada juga seorang anak bernama Fahreza yang sering bertemu keduanya di pasar,karena orang tua Fahreza juga berjualan di pasar itu yang letak kiosnya bersebelahan dengan kios keduanya.


Pada suatu siang, seperti biasa Salman sedang membereskan gulungan kain-kainnya di kiosnya. Pada saat yang bersamaan Rustam membawa dua karung gandum ke kiosnya lalu menumpahkan isinya kedalam kotak terdepan di kiosnya,karena terburu-buru, isi karung tumpah sebagian keluar dari kotak penyimpanannya sehingga tepung  gandum dan banyak "debunya" mengenai dan mengotori kain-kain jualan Salman.
Rustam:"Wah tumpah lagi, maafkan aku ya Salman..."
Salman:" Tidak apa-apa kawan,biar kubersihkan lagi kainnya,yang kotor cuma sedikit kok"
Kejadian ini sering terjadi,namun Salman tidak keberatan karena Rustam selalu meminta maaf.

Pada hari yang lain,saat istirahat siang, Salman dan Rustam diajak makan bersama orang tua Fahreza di kiosnya, Keduanya dipersilahkan untuk mencicipi gulai kambing yang dimasak ibunda Fahreza. Saat Salman mengambil gulai ke dalam piringnya, gulai panas yang ada di sendoknya tanpa sengaja tumpah ke paha Rustam yang sedang bersila. Tanpa dikomando,Rustam mengaduh  kepanasan.
Salman:"Innalillahi, Rustam maafkan saya,saya tidak sengaja..."
Rustam tidak menjawab mulutnya hanya meringis saja. Ini yang kesekian kali Salman menumpahkan sesuatu ke bajunya, karena memang tangan Salman agak lemah setelah diserang penyakit  diwaktu masa kecilnya. Ayahanda Fahreza menuangkan gulai kedalam piring anaknya seraya berkata:"Ayo silahkan dimakan nanti keburu dingin gulainya".Mereka berempatpun makan dengan nikmatnya.


Dihari yang lain, dimana saat itu sedang hujan deras, Salman sedang didatangi pembeli yang  menawar kainnya. Tiba-tiba datang Rustam menghampiri Salman seraya berbisik kepadanya:
"Salman,tolong aku sebentar ,kiosku bocor atapnya,bisa kau bantu aku mengangkat karung-karung tepungku takut kebasahan ?".
Salman menatap Pembelinya dan sahabatnya, tanpa waktu lama Salman pamit sebentar kepada pembelinya untuk menolong sahabatnya karena fikirnya tepung-tepung milik Rustam tidak akan laku terjual jika kebasahan kena air hujan. Saat tepung-tepung itu selesai dipindahkan,Salman kembali ke kiosnya yang terletak disebelah kios Rustam,dilihatnya pembeli yang tadi menawar dagangannya telah pergi dan tidak kembali lagi hingga sore hari.Menyadari hal itu Rustam berkata:
"Salman,aku minta maaf,gara-gara aku kau kehilangan pelangganmu hari ini".
"Tidak apa-apa kawan, rezeki kita kan sudah diatur,yang tadi berarti belum rezekyku".
Rustam tersenyum,lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.


Dihari berikutnya, Rustam sedang menimbang tepung gandumnya. Dari kejauhan ia melihat Salman sedang memikul gulungan panjang kain di pundaknya hendak dibawa masuk ke dalam kiosnya. tanpa sengaja, saat hendak berbelok ke pintu kiosnya, gulungan kain Salman yang panjang, ujungnya mengenai pundak Rustam agak keras,sehingga tangan Rustam yang sedang memegang cidukan tepung terlepas dan tepungnya berhamburan.Menyadari itu,Salman segera meminta maaf:
"Ya Allah,Rustam maafkan aku,aku tidak hati-hati,kamu tidak apa-apa kan?"
Salman bertanya khawatir. Rustam menepuk-nepuk tangannya yang penuh dengan tepung gandum yang tumpah:
"Ya kalau cuma maaf gampang, tapi kalau sering tidak hati-hati begini, aku bisa rugi kawan,tuh tepungku jadi tumpah,pembeli mana mau tepung yang kotor".
Salman meringis, ia sangat menyesal telah menumpahkan dagangan kawannya karena keteledorannya.


Salman dan Rustam sama-sama menyukai seorang gadis yang mereka kenal di pasar, namun gadis itu ternyata telah memilih dan menerima pinangan Rustam. Walaupun Salman telah mengetahui hal tersebut dan hatinya merasa kecewa, namun jika mereka bertemu Salman berusaha tetap ramah kepada gadis itu sehingga menimbulkan kecemburuan Rustam. Pada suatu siang di depan kios mereka, Salman dan Rustam nampak sedang berbincang-bincang, terdengar Salman berkata:
"Rustam, bagaimanapun aku pernah mencintai gadis itu, maafkan aku jika aku telah lancang beramah-ramah kepadanya".
Rustam diam, wajahnya tak bergeming, lalu ia berkata:
"Sudahlah jangan minta maaf dulu, lebih baik kamu fikirkan apa kesalahanmu supaya tidak kau ulang lagi dimasa yang akan datang".
Salman terdiam mendengar kata-kata sahabatnya. Rustampun melanjutkan :
"Tapi Salman, akupun minta maaf telah mencintai dan meminang gadis yang juga kau cintai. Ternyata dia menerima pinanganku,bukan pinanganmu. Aku harap kau tidak apa-apa".Rustam menepuk pundak Salman. Salman tersenyum lalu berkata:
"Tidak mengapa kawan, ini bermakna bahwa dia bukan jodohku,dialah jodohmu. Allah akan memilihkan untukku milikku.Insha Allah"
Keduanya tersenyum lalu Rustam meninggalkan Salman untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tanpa keduanya sadari, Fahreza menyaksikan semuanya selama ini. Dia selalu berada di tempat ayahnya tidak jauh dari kios Salman dan Rustam,sehingga mengetahui apa yang sehari-hari terjadi. Melihat Rustam telah pergi, ia berlari menghampiri Salman.
Setelah keduanya bertemu,Fahreza bertanya kepada Salman:
"Paman, mengapa kau maafkan dia saat dia memintanya karena telah mengotori kain-kainmu dengan tepung gandumnya. Sedang dia belum memaafkanmu saat kau memintanya karena  menumpahkan gulai ke kakinya?"

"Paman, mengapa kau maafkan dia saat dia memintanya padahal kau telah kehilangan pembeli karena membantu mengangkat karung gandumnya yang basah. Sedang dia belum memaafkanmu saat kau memintanya karena kau senggol tangannya sehingga tumpah gandumnya."

"Paman, mengapa kau maafkan dia saat dia memintanya karena telah mengambil gadis yang kau cintai,sedang dia belum memaafkanmu saat kau memintanya karena telah beramah-ramah dengan gadisnya?"


Mendengar pertanyaan-pertanyaan Fahreza, Salman tersenyum, lalu merangkul pundak anak itu dan mengajaknya duduk di kiosnya,lalu Salman berkata:
"Reza,kuharap kau mendengarkan kata-kataku agar kau mengerti. Paman Rustam tidak mudah memaafkan kesalahanku, karena ia ingin aku belajar dari kesalahanku supaya tidak aku ulangi lagi di lain hari. Sedang aku ingin mudah memaafkannya, karena aku ingin Allah Tuhanku-pun ,mudah memaafkanku saat aku memintanya. Dia Maha Pemurah, selalu terbuka maaf dan ampunannya bagi hamba-hambaNYA yang mau bertaubat. Aku ingin belajar memaafkan kesalahan orang tanpa perhitungan, karena aku merindukan Allah pun akan memaafkan kesalahanku tanpa perhitungan, sedang Dia itu Maha Pemurah, Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana."
 
Fahreza mendapat pelajaran hari itu, kini ia mengetahui mengapa kedua pamannya begitu berbeda.


------------------------------------------------------------------------------
Bogor, 4 April 2010

Tulisan dan Foto Original by Winny

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya, itulah bedanya manusia dengan Yang Maha Pemurah. Allah Maha Luas ampunannya bagi orang yang memohon ampunan/bertaubat yang menyadari dan mengakui kesalahan dan kekeliruannya, yang merendahkan hatinya di hadapan sang Pengampun, serta yang tidak akan mengulangi perbuatannya.

Winny Widyawati Suherlan mengatakan...

Yang dibicarakan kan tentang memaafkan kesalahan org lain yg minta maaf kpd org yg dizaliminya,kalau bicara taubat koment di atas betul sekali. Banyak manusia ikhlas contohnya spt Salman yg bisa memaafkan kesalahan orang lain dg mudah, mgkn krn sudah sedikit rasa "aku"nya atau egonya. Minta maaf dan memaafkan akan murah dan mudah sekali dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas