This foto belong to AFSP Central Florida

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Agustus 2010

Cintaku Untuk Indonesia

Kata orang....
Perancis itu negeri  romantis
Siapa yang datang kan terhipnotis
Serasa jatuh cinta setiap waktu
Menimpa siapa saja yang bertamu


Kata orang...
Spanyol itu negri indah tak terkata
Pemilik  keelokkan di Andalusia
Memecut hati orang terbang kesana
Kota Granada membius jiwa


Kata orang...
India itu negeri yang kaya
Beragam suku dan budaya
Taj Mahl menjadi lambang cinta
Negeri bertabur indahnya wanita


Kata orang...
Amerika itu negeri yang hebat
Tempat berkumpul para Teknokrat
Menjadi raja menguasai dunia
Siapa saja dapat diaturnya


Namun mengapa tetap saja...
Di jiwaku hanya ada Indonesia
Tanah tempat ibuku mencinta
Air tempat masa kecilku bercengkrama


Merenda usiaku disetiap jengkal rerumputannya
Merajut kenanganku disetiap jatuh air hujannya
Tempat melihat ayahku berjuang menyekolahkanku
Tempat melihat ibuku menjahit baju pengantinku


Biar indah negeri lain dikata orang
Tak hendak aku mengejarnya
Biar bobrok negriku dicerca orang
Tak hendak aku meninggalkannya


Biarlah kupuaskan pengabdianku
Untuk membangun negriku
Biarlah kuhabiskan kekuatanku
Untuk menolong saudara sebangsaku


Demi syukurku kepada Tuhanku
Telah menyimpan jiwa ragaku
Di negeri zamrud khatulistiwa
INDONESIA


Ditulis untuk mengikuti lomba Gelar Puisi Aku Cinta Indonesia yang diselenggarakan Blogcamp
Mencoba membuat puisi ala Pakde cholik, semoga yang punya hajat berkenan, amiin ^,^

Sabtu, 31 Juli 2010

Hening...

Telagaku hening.....
Hanya sedikit angin menggoda dedaunan
Sedang apakah katak di bentang teratai itu ?
Adakah ia tengah diliput bahagia
Kudengar ia melantunkan latansa


Ahh telagaku sunyi....
Hanya gemericik airnya kudengar resik
Adakah bulan itu tersenyum padaku ?
Sinarnya berpendar saat kutatap ia
Mungkin ia malu mengungkapkannya


Bayangku  bergelombang di air cerminmu telagaku....
Ia meliukkan tarian magis disetiap kilaunya
Seakan mengejekku yang terduduk beku
Menanti amarahku....


No...no.....no...!!!
Tak bisa kau temukan murkaku hai bayanganku !
Telah kubuang ia ke lumpur terhitam
Dan kucampakkan ia ke negeri terjauh


Hanya senyuman nan kusimpan rapih
Di kotak perhiasan kalbuku terdalam
Dan kukunci ia dengan api emas
Bertudung ikhlas sehalus pualam


Telagaku sepi malam ini
Hanya suara jengkrik berderik
Mengiring symphony semesta telagaku
Menuntun lagu rindu kecapiku


Telagaku hening......
*suara air mengalir tenang.......*

Selasa, 27 April 2010

Hujan jangan kau pergi.....

Bismillah....

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah mencurahkan hujan di kotaku setelah beberapa hari tak setitik pun air menetes ke bumi kami.
Hujan yang mendamaikan hati. Suara gerintisnya yang menepuk-nepuk tanah berdebu memberikan harapan. Bahwa masih ada orang di sekitar yang mau bertaubat, masih ada orang yang ikhlas.

Di rumah-rumah kami silih berganti menjadi tempat orang mengaji
Di mesjid kami ada saja orang datang untuk shalat berjama'ah
Di dalam pergaulan kami masih ada shedekah
Di orang-orang mampu kami masih banyak yang mau berangkat haji

Namun siapa yang tahu dada orang yang ikhlas
Siapa yang dapat melihat para pendosa bertaubat
Dan siapa bisa menerka janji seorang yang setia
Melainkan hanya disisi Tuhanlah rahasianya

Di masa Nabi....
Hujan telah menjadi pertanda
Ada rahmat Allah di tanah yang dibasahi...

Di masa para Shahabat dan Shalihin
Hujan menjadi isyarat
Ada ampunan Allah hendak dibagikan...

Entah di masa kini
Orang telah tak perduli
Apakah hujan akan pergi dan tak kembali
Telah hilang mawas diri
Tak takut kepada Ilahi...

Orang kini lebih takut pada tsunami
Takut tak dapat membuat kenyang anak dan istri
Sehingga dijamah segala yang terlarang
Murka Tuhan sudah tak terbayang...

Hujan jangan kau pergi
Membawa rahmat Allah menjauhi kami
Sampaikan air mata kami
Kepada Al-Ghafuur yang Maha Tinggi....


Aku menanti di jendelaku.....
Tetes-tetes air itu membasahi tanah dan hatiku.....


***********

Alhamdulillah puisi tadi saya dedikasikan untuk sang Hujan ^,^ sebagai tanda syukur kepada Allah azza wa Jalla yang telah mengirimkan makhluknya itu di rumah kami. 
Selanjutnya, rasa syukur saya pun meliputi pula ni'mat lain yaitu teman sesama bloger saya yaitu Mas Sukadi, yang telah berbaik hati menghadiahkan award kepada saya, sebuah award yang sangat "cute".

Lucu ya :)
Award ini  saya bermaksud memberikannya kepada lima blogger yaitu : mbak Irma Senja,  Mbak Latifah, Mas ShidiqElpa, dan Nur-Ma. Jadi jika sahabat yang akan saya bagi award ini sudah membaca postingan saya ini silahkan mengambilnya. Dari saya tanpa syarat. Ini tanda persahabatan kita di dunia blog :)

Sekian dari saya semoga tidak ada kesalahan dalam hal award ini karena saya masih agak awam soal ini. apabila ada kekeliruan dalam penyampaiannya mohon dikoreksi. Terima kasih sudah berkunjung ya :)
Wassalam



Rabu, 21 April 2010

Titipan Tuhan....

                                                                          


Seekor burung melayang di angkasa yang jingga
Mengepak sayapnya yang berbulu keemasan
Bersama kawan saudara telah melampaui dua benua
Mencari dataran dimana musim telah menantinya

Melewati sebuah rumah megah beratap merah
Dihias batu dan taman yang indah
Terhampar rumput lembut dan kolam ikan
Disemat di sudutnya sebuah ayunan

Sang burung tersentak seiring silau di matanya
Apakah itu ?
sesuatu yang bercahaya datang dari jendela rumah itu
Ia mengembangkan sayap menukik mendekat
Kilau itu ternyata datang dari setetes air mata seorang anak

Gadis kecil berambut coklat
Bermata biru berteman kesedihan
Duduk di kasur empuknya
Dipeluk kesepiannya

"Hai anak...siapa kau ?.... ada apa dengan air matamu?"

"Aku anak yatim piatu. Air mataku tak bisa berhenti sejak aku dilahirkan"

"Kau anak yatim? Kasihanku untukmu. Ayah Ibumu telah tiada nak? dimanakah batu nisannya ?"

Sang anak menggelengkan kepalanya,ia menunjuk ke dalam rumahnya
"Ibuku ada di dalam kebingungan , ayahku ada di luar pelukan"

Sang burung terheran-heran
"Apa yang kau katakan nak?"

Ibuku disini tak bicara padaku
Ia hanya menegurku jika aku memecahkan vas bunganya
Ibuku disini tak bercanda denganku
Ia hanya memarahiku jika aku mengotori lantainya
Ibuku disini tak tersenyum padaku
Ia hanya membentakku jika aku terlambat bangun pagi

Aku tak punya Ibu yang dijanjikan Tuhan
Yang mengajakku lembut melihat dunia luar
Yang memelukku jika aku kedinginan
Yang tertawa bersamaku jika aku merasa senang

Ayahku disini tak berbincang denganku
Ia hanya memelotokan matanya jika aku lupa janjiku
Ayahku disini menepis tanganku tak menyambut pelukanku
Ia hanya menceramahiku mengeluh kelelahan
Ayahku disini tak bermain denganku
Ia hanya berteriak padaku menyuruh pergi ke kamarku

Aku tak punya ayah yang dijanjikan Tuhan
Yang mengajari aku jika aku kebingungan
Yang melindungi aku jika aku ketakutan
Yang mencium dan mendo'akanku jika aku ke pembaringan

Hiks...hiks..hiks
Burung...
Antarkan aku kepada Tuhan...
Akan ku cari Ayah Ibuku disana yang tertinggal...

Sang burung termenung risau
Entah apa yang akan dikatakan
Kepada kawan jika ditanyakan
Oleh siapa ia telah tertahan

Katakan saja wahai burung....kau telah tertahan....oleh seorang anak titipan Tuhan.....

-----------------------------------------------------------------------
Link Foto : http://picture-book.com/node/7938

Minggu, 18 April 2010

Kisah Daun Salam...





Ada sehelai daun salam .....Melayang-layang di langit senja...
Ia baru saja lepas dari pohonnya...
Yang memeluknya sejak awal kehadirannya...


Daun salam menangis pilu...
Perpisahannya telah ditentukan sang waktu...
Ingin menahan laju...
Namun ia semakin jauh....


Daun salam ditangkap angin malam...
Membawanya jauh  menyebrangi  lautan...
Daun salam bertanya...
Hendak kemana ia akan dilabuhkan...


"Hai angin hendak kemana kau bawa aku ?..."

"Aku hendak membawamu ke tempat yang jauh....
Ke tempat dimana ragamu akan semakin rapuh...."

"Hai angin malam, dapatkah yang akan rapuh mengajukan permintaan...?"


Angin malam gusar mendengar pertanyaan 
"Apa yang kau inginkan ? sepanjang hidupku tak ada daun yang memiliki pilihan"

Daun salam berkata:
"Jatuhkan aku ke tengah lautan...
Disana aku memiliki  teman...
Yang tak akan mengecewakan..".


Angin terheran-heran,
"Apa yang kau katakan ?...
Di sana hanya ada gelombang dan batu karang
Siapakah yang kau maksudkan ?"


"Dia adalah buih di lautan...
Makhluk yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an...
Telah menjadi  barang perumpamaan
Tentang ketidak-berartian dan kefaqiran "


"Dari ketinggian sana, aku telah sering menyaksikan...
Betapa banyak manusia ditelan kesombongannya...
Aku tak ingin hidup bersama mereka...
Yang telah dikelabui hawa nafsunya..."


"Mereka mengira diri sempurna...
Pandai dan cakap dengan sendirinya...
Kepada sesama hamba kikir, dengki, saling menjatuhkan...
Tak sadar semua hanya pinjaman..."

"Bawalah aku pada buih di lautan...
Yang sadar akan kurang dan kelemahan...
Diombang-ambing ombak di lautan...
Tenggelam dalam syukur dan rasa kefaqiran....
Tiada daya dan kekuatan melainkan karena bersama Tuhan..."

"Wahai angin malam...
Antarlah aku kepadanya...
Bersamanya aku ingin menghabiskan usiaku...."

Angin malam tertunduk kesedihan....
Tiada kata untuk menolak permohonan...
Dibentang sayap menuju samudra dalam...
Melepas daun yang kesusahan......


--------------------------------------------------------
Link Foto :
http://images.google.co.id/imglanding?q=sehelai%20daun&imgurl=http://farm4.static.flickr.com/3444/3385966468_3713a6d834.jpg&imgrefurl=http://ruanghatikita.wordpress.com/2009/11/22/pesan-gugurnya-sehelai-daun/&usg=__gDO7Z6dJangfJKQxish3xJKXpr0=&h=500&w=357&sz=83&hl=id&um=1&itbs=1&tbnid=IRRGlx8htXfM1M:&tbnh=130&tbnw=93&prev=/images%3Fq%3Dsehelai%2Bdaun%26um%3D1%26hl%3Did%26tbs%3Disch:1&um=1&tbs=isch:1&start=13#tbnid=IRRGlx8htXfM1M&start=17

Sabtu, 17 April 2010

Tersenyumlah...........




Bumi berkaca-kaca...
Rintihnya memilukan hati...
Ia bertanya-tanya....
Tiada satupun yang menjawabnya...
Ujarnya....


Wahai Hari ....
Mengapa tak kutemukan terangmu ?......
Kau tak tersenyum hari ini...
Sedang DIA menciptakanmu  untuk menambah harapanku
Apakah kau melihat manusia melakukan dosa di sinarmu ?
Tersenyumlah matahariku...
Tak semua telah membuatmu nestapa...


Wahai Hujan....
Mengapa tak kutemukan basahmu ?....
Kau tak tersenyum hari ini...
Sedang DIA menciptakanmu untuk menyuburkanku
Apakah kau melihat manusia melakukan nista di pantulan airmu ?...
Tersenyumlah pelangiku...
Tak semua telah membuatmu lara....


Wahai Senja....
Mengapa tak kutemukan jinggamu ?....
Kau tak tersenyum hari ini...
Sedang DIA menciptakanmu untuk ketentramanku
Apakah kau melihat manusia melakukan khilaf di lembayungmu ?
Tersenyumlah kelamku...
Tak semua telah membuatmu duka...


Wahai Angin...
Mengapa tak kutemukan sejukmu ?
Kau tak tersenyum hari ini...
Sedang DIA menciptakanmu untuk mengasuhku...
Apakah kau melihat manusia melakukan ma'siyat di selendangmu ?
Tersenyumlah buaianku...
Tak semua telah membuatmu bermuram durja



Sshh.....sshh.....sshhh
Heninglah....!!!
Suara siapakah itu ?...


Sshh....sshh...sshh
Wahai Bumi....
Aku Embun di daun kering....
Aku datang dari negeri yang jauh...
Dituntun angin yang tak ingin kau tahu kehadirannya


Wahai Bumi....
Mengapa tak kutemukan ikhlasmu ?
Kau tak tersenyum hari ini...
Sedang DIA menciptakanmu untuk menangkup Qadha'-NYA
Kau tempat semua yang diberi kehidupan berjalan...
Kau tempat semua yang bernafsu terpuaskan...
Kau tempat semua yang pasti mati terkuburkan...
Tetapi...
Kau pun tempatnya semua yang yakin beramal shaleh
Kau jua tempatnya semua pendosa bertaubat
Kau lagi tempat  semua perindu berdzikir
.............................................................
Tersenyumlah Permadaniku...
Tak semua telah membuatmu berputus asa...


Link foto : http://www.google.co.id/imglanding?q=bumi%20menangis&imgurl=http://dadangnugroho.files.wordpress.com/2008/09/earths_crying_ey1.jpg&imgrefurl=http://dadangnugroho.wordpress.com/2008/09/19/bumi-menangis-bumiku-meleleh/&usg=__9_TkGSuxPzof0VDF629gnNpUjc0=&h=768&w=1024&sz=56&hl=id&itbs=1&tbnid=Yhd4RN2_76spRM:&tbnh=113&tbnw=150&prev=/images%3Fq%3Dbumi%2Bmenangis%26hl%3Did%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=15#tbnid=Yhd4RN2_76spRM&start=19

Sabtu, 27 Maret 2010

Ada Seribu Masjid



Ada Seribu Masjid...
Yang tidak di Utara, tidak pula di Selatan
Tidak di Timur, maupun di Baratnya
Namun ia pun bukanlah khayalan
Tidak berada di negeri Awan
Bukan pula di pulau angan-angan


Ada seribu Masjid...
Masjid itu terkadang suram lampunya
Terkadang Silau bercahaya
Pelitanya bukan dari lilin
Bukan pula dari lampu bertenaga listrik
Ia dinyalakan oleh pemiliknya, sekehendaknya


Ada seribu Masjid...
Selalu berpindah-pindah tempatnya
Terkadang di kota lautan lampu dan keramaian
Terkadang di puncak tinggi berbalut sepi dan kedamaian
kadang berada di lautan yang ganas ombaknya
Kadang di danau yang tenang airnya


Ada seribu Masjid...
Tidak tetap keadaannya
Bisa jadi kotor berdebu
Bisa jadi pula bersih mengkilap
Bisa jadi pengap dan panas
Bisa pula dingin dan menyejukkan


Ada Seribu Masjid...
Yang dimiliki semua hamba Tuhan
Beraneka macam suara Adzannya
Ada yang menyeru kepada kesenangan hawa nafsu pemiliknya
Ada yang menyeru kepada kesulitan hawa nafsu pemiliknya
Terdengar saling bersahutan di langit jagadnya

Ada Seribu Masjid...
Yang tak menentu apa yang dibicarakan jama'ahnya
Terkadang bergaung seperti lebah
Membacakan Al-Qur'an dan Mendzikiri Tuhannya
Terkadang bising memekakan
Membicarakan perdagangan dunianya



Kini...
Kucari sebuah Masjid...
Yang tidak berubah keadaannya
Selalu bercahaya sinar lampunya
Tidak pernah berkurang kemilau Nurnya


Kucari Sebuah Masjid...
Yang tidak berpindah-pindah tempatnya
Selalu berada di ketenangan rasa
Senantiasa bernaung di keteduhan Dzikir


Kucari sebuah Masjid...
Yang Tidak kusam ditelan kekotoran zaman
Selalu dingin disirami mata air taubat
Jendelanya berkilau menembus cakrawala ma'rifat


Kucari sebuah Masjid...
Yang berkumandang adzannya ke segala penjuru langit
Senantiasa menyerukan Kalam Allah
Menyeret hawa nafsu yang keberatan

Kucari sebuah Masjid...
Yang makmur setiap hari di sepanjang malam
Yang digembirakan dengan kunjungan jama'ahnya
Memenuhi segenap sudutnya dengan membesarkan Allah Azza wa Jalla


Dimanakah Masjid itu...?
Mungkin dia berada di dalam dadamu
Mungkin dia bersemayam di dalam Hatimu...


Link Foto: - warta-pomosda.blogspot.com/2009
- http://meetabied.wordpress.com/2009/11/28/simbol-hati-merah-jambu-2/